Suatu malam, Lianhua Yihao bermimpi, mimpinya sangat jelas, berikut ceritanya:
Di sebuah gunung yang sangat tinggi dan indah, di tengah gunung ada sebuah vihara kuno, Yaochi Jinmu dan Mahaguru Lu duduk di dalam vihara kuno tersebut.
Yihao hampir berhasil dalam belajar Dharma, bersiap-siap pamit turun gunung.
Mahaguru Lu berkata pada Yihao, "Tidak ada benda lain yang bisa saya berikan pada Anda, hanya sebatang tongkat yang bisa saya berikan, agar perjalanan turun gunung Anda lebih lancar."
Yaochi Jinmu berkata, "Yihao, saya punya sehelai sapu tangan untuk Anda seka keringat saat turun gunung!"
Setelah Lianhua Yihao telah menerima tongkat dan sapu tangan, berkata, "Terima kasih Mahaguru Lu, terima kasih Yaochi Jinmu, murid turun gunung, semoga tidak menyia-nyiakan harapan, menyeberangkan insan di kolong langit, membalas budi guru."
Setelah itu, Yihao pun turun gunung.
Di pertengahan gunung, bertemu seekor macan, macan ini buka mulut mengaum, gigi putih runcing, datang menyerang Yihao.
Yihao mengangkat tongkatnya, tak disangka tongkat memancarkan seberkas sinar putih, memancar ke si macan, begitu si macan melihat sinar putih, terkejut, berbalik dan pergi!
Lebih lanjut:
Begitu Yihao turun gunung, tersesat, tidak dapat membedakan arah timur-selatan-barat-utara, satu gunung melewati satu gunung, satu hutan menembusi satu hutan, namun, setiap puncak gunung bersambungan, hutan rimba, tak menemukan jalan turun gunung.
Seketika ia panik, mengeluarkan sapu tangan Yaochi Jinmu untuk menyeka keringat, begitu dikeluarkan, sapu tangan berubah menjadi awan putih, Yihao berdiri di atas awan, begitu awan terbang, Lianhua Yihao pun dibawa turun gunung. Hanya terdengar di samping telinga, angin menderu, seketika kembali ke rumah.
Selanjutnya, ia pun terbangun dari mimpi.
Lianhua Yihao bertanya pada saya, "Di jalan bertemu macan, apa maksudnya?"
Saya menjawab, "Semua urusan duniawi, ditebas habis!"
Lianhua Yihao bertanya, "Tangan saya tidak ada pisau?"
Saya menjawab, "Karena tidak ada pisau, maka tidak ada macan." (Kalimat ini memiliki arti yang dalam)
Lianhua Yihao bertanya, "Tersesat, sapu tangan berubah menjadi awan, membawa saya kembali ke kampung halaman, bagaimana menjelaskannya?"
Saya menjawab, "Mesti menaati sila!"
"Bagaimana menaati sila?" ia bertanya.
"Mesti memiliki mata bijak!"
"Bagaimana mata bijak itu?" ia bertanya.
"Membedakan arah timur-selatan-barat-utara."
Yihao bertanya, "Sapu tangan berubah menjadi awan, apa artinya?"
Saya menjawab, "Setelah pergi tidak meninggalkan jejak." (Kalimat ini memiliki arti yang dalam)
Yihao bertanya, "Bagaimana saya menyeberangkan insan luas? Insan bagaimana diseberangkan?"
Saya terbahak-bahak, "Tulang putih bagaikan gunung." (Kalimat ini memiliki arti yang dalam)
Para siswa mulia, mimpi Lianhua Yihao, sangat menarik, seorang sadhaka, paling pantang bertemu kejadian yang berbahaya, seperti mimpi bertemu macan, orang biasa sudah ketakutan setengah mati, mundur dari sradha (keyakinan).
Selanjutnya, saat keluar gunung, tidak dapat membedakan arah timur, selatan, barat, utara, jalan benar, jalan sesat, tidak dapat dibedakan. Masuk ke jalan sesat, mau kembali ke jalan benar, sudah sangat sulit! Menyeberangkan diri sendiri saja sulit sekali, apalagi menyeberangkan insan?
Mimpi ini, bisa mewaspadai semua siswa mulia, jangan menyerah sebelum mencapai keberhasilan!
Sabtu, 13 Desember 2014
Bagaimana Mencegah dan Menyembuhkan Gangguan Roh Luar
Hari ini, kita mendengar Lama Lianye menyampaikan tentang keharmonisan antara teori dan praktek, dengan kata lain, praktek pembinaan diri harus dipadukan dengan teori, ini dulu sudah pernah disampaikan.
Terakhir, ia mengemukakan sebuah pertanyaan, “Jika menyimpang dalam melatih diri, berdiri pada posisi sebagai rekan se-Dharma, bagaimana seharusnya kita membantunya?”
Pertanyaan ini sangat besar, apa penyimpangan yang Anda maksud? Bagaimana penyimpangannya? Sama-sama melatih diri, orang ini menyimpang secara perilaku? Atau batinnya menyimpang? Atau jiwanya menyimpang? Penyimpangan ini beragam. Atau pemikirannya, konsepnya menyimpang? Entah yang mana?
(Jawab: penyimpangan jiwa.)
Biasanya, penyimpangan jiwa ada dua faktor, saya sering mengatakan, pertama, ia tidak dapat tidur dengan normal. Menurut medis, seseorang jika tidak tidur berhari-hari, kira-kira 3 hari, 4 hari, ia tidak dapat tidur, ia pun mengalami penyakit gila. Hanya 3-4 hari saja, ia sudah linglung. Jadi, tidur adalah asupan jiwa, saya pernah katakan.
Selain itu, ada satu hal lagi, biasanya, ada 2 gejala khusus, tanda khusus penderita sakit jiwa, pertama, ia tidak dapat tidur, kedua, ia tidak ada selera makan, pola makan tidak normal. Karena masalah tidur, juga mempengaruhi pola makannya, makan adalah asupan untuk badan.
Kita sadhaka sangat memperhatikan masalah tidur dan pola makan, yaitu tidur Anda harus normal, pola makan harus normal, baru bisa mempertahankan kesehatan badan Anda, Anda tidak ada badan yang sehat, bagaimana melatih diri? Tidur tidak normal, bahkan kebutuhan dasar manusia pun belum dapat Anda penuhi, bagaimana melatih diri? Prinsip yang sangat mudah, Anda bahkan tidak mampu mengatasi masalah tidur Anda, bagaimana Anda melatih diri? Atasi dulu masalah tidur dan pola makan Anda, lebih dulu menjadi manusia normal, yang satu ini sangat penting.
Biasanya, penderita sakit jiwa mengalami gangguan tidur. Selanjutnya? Pola makannya juga tidak normal.
Jadi, biasanya, kita menghadapi orang demikian, pertama, lebih dulu perbaiki tidurnya, biarkan ia dapat tidur dengan normal.
Dulu, saat saya belajar Dharma, Ia mengajari cara membuat jiwa kita dapat tenang, fu tersebut, jiwanya bisa tenang, semacam fu yang bisa membuat memasuki kondisi tidur normal.
Jika ada gangguan lain, harus ditemukan tanda-tanda gangguan lain, agar gangguannya sirna, misalnya ada yang tergolong rintangan karma kehidupan lampau, rintangan karma turun-temurun, gangguan roh luar, kita mesti melakukan simabandhana pada diri sadhana ini, agar roh luar tidak dapat mengganggunya.
Selain itu, masih harus dicari cara untuk menyingkirkan gangguan roh luar (roh dari luar yang mengganggunya), tentu saja, ini sangat merepotkan, namun, tidur itu pertama, biarkan ia tidur dengan normal. Selanjutnya, pola makan, biarkan ia makan dengan normal. Selama raganya bisa kokoh, raganya sendiri bisa kokoh, roh luar tidak dapat mengganggu.
Roh luar dapat mengganggu Anda, karena Anda sendiri sudah tidak stabil lagi, Ia baru mengganggu Anda. Anda sendiri berdiri sangat mantap ibarat vajra, Ia tidak dapat menggangu Anda, asalkan dapat menjauhi Anda, Ia sedang menunggu kesempatan. Begitulah yang saya lihat, di dunia ini, semua yang berwujud dan tidak berwujud, sudah banyak saya temui.
Gangguan dunia roh luar, karena Anda sendiri sudah lebih dulu ambruk, Anda sendiri sudah tidak mantap berdiri, Ia mendorong Anda perlahan saja, Anda sudah jatuh, Ia bisa sembarangan masuk dan mencaplok raga Anda, tentu saja Anda pun menjadi penderita sakit jiwa.
Jika jiwa Anda sendiri sangat kuat, tidur sangat normal, badan sangat kuat, energi Yang sangat kuat, ia sama sekali tidak dapat mengganggu Anda, Anda tidak tergoyahkan.
Oleh karena itu, kita sadhaka tidak boleh melatih diri hingga kondisi raga sangat lemah, sangat mengantuk, energi sangat lemah, linglung, berpikir yang bukan-bukan, otak dan jiwa berubah drastis, saat ini, Ia paling suka dengan Anda, ini masuk, itu keluar, ini masuk, itu keluar, tidak berhenti, setiap hari mengganggu Anda.
Kita olah prana, olah hingga menjadi energi yang sangat kuat, sama sekali tidak takut, apapun tidak takut, disebut Abhaya.
Buddha membentuk Mudra Abhaya, Ia tidak takut apapun, semuanya tidak ada yang ditakutkan, dewa, hantu, sesat, siluman, takut apa? Apa yang ditakutkan? Jadi, diri sendiri ambruk lebih dulu, Anda sendiri berdiri sangat tegak, apapun tidak perlu takut.
Di dalam Tantra ada olah prana, prana tubuh Anda tidak boleh sangat lemah, harus olah prana tubuh Anda sendiri, bahkan membuat prana sendiri dapat melancarkan semua nadi. Karena begitu nadi tersumbat, prana tidak dapat mengalir lancar, tubuhnya akan lemah sekali.
Kita melatih prana, melatih nadi, melatih bindu itu melatih badan kita. Karena raga kita sangat kuat, batin Anda sangat sehat, tidak takut roh luar.
Kedua hal ini diatasi dari kedua aspek, pertama, tidur Anda harus normal, jiwa Anda pun akan normal. Pola makan harus normal, raga Anda akan normal. Jiwa dan raga normal, energi Yang kuat ada, mana takut gangguan roh luar?
Jadi, setiap penderita sakit jiwa yang datang, pasti mengalami gangguan tidur, serratus persen.
Rekan se-Dharma sendiri mengalami gangguan jiwa, menyimpang, atau bagaimana, ia tentu mengalami gangguan tidur, mudah sekali! Bisa dipastikan bahwa ia mengalami gangguan tidur, tidur normal masih bisa demikian? Anda mengalami gangguan tidur, Anda melihat wajahnya, sangat merana, gelap, seluruh tubuh adalah hawa hitam, roh luar sangat suka, ini masuk, itu keluar, ini masuk, itu keluar, mengganggu Anda, prinsip yang sangat mudah.
Pertama, Anda benar-benar mengalami gangguan tidur, usahakan periksakan diri ke dokter, minum obat! Supaya jiwa Anda memulih, setelah itu tolak obat-obatan, kemudian melatih diri lagi perlahan-lahan.
Anda mengalami masalah psikis, cari psikiater, seimbangkan psikis Anda, supaya Anda bisa tidur pada malam hari, bahkan dapat tidur lelap, terang, dan bersih.
Seorang sadhaka harus tidur lelap, bersih, terang, saat ini, Anda di dalam tidur, hawa langit bumi di alam semesta melebur dengan Anda, terang bersama dengan Anda, kondisi bersih menyatu dengan Anda, ini baru benar! Ini barulah melatih diri yang sesungguhnya.
Tadi, Lianye menyampaikan bahwa teori dan praktek harus selaras, inilah keselarasan teori dan praktek. Anda tidur pun tidak bisa, secara teori saya tahu harus bersih, tidak dapat bersih, teori dan praktek tidak selaras. Harus terang, hati tidak terang. Tidur harus lelap, setiap sadhaka harus tidur di dalam terang, tidur sangat nyaman, bersih, lelap, jika tidak mampu, teori dan praktek tidak selaras, apakah ini yang disebut melatih diri?
Ini tentu bukan melatih diri.
Oleh karena itu, jiwanya mengalami penyimpangan, ditangani dari tidurnya, ditangani dari pola makannya, biarkan ia tidur lelap, pola makan normal, kemudian melakukan simabandhana pada tubuhnya, cari cara memanjatkan Sutra, menjapa mantra dilimpahkan jasa pada roh luar.
Milarepa juga pernah bertemu tanda-tanda roh luar, Anda boleh belajar, Ia kadang-kadang memujinya, kadang-kadang memberikan persembahan padanya, akhirnya mengubah diri sendiri menjadi tiada, menganggap roh luar ini sebagai rekan se-Dharma, ia justru membantu Anda, tanda-tanda yang sangat istimewa. Ini tentu sangat dalam, dapat berkomunikasi dengan roh luar, bahkan dapat mengunggulinya, menganggapnya menjadi tiada, ini adalah ilmu yang sangat dalam. Tidak sebatas ilmu. Juga semacam kemampuan yang Anda hasilkan dalam melatih diri, keselarasan teori dan praktek! Di sini ada bermacam-macam cara membantunya, namun, dua hal yang penting, lebih dulu membuatnya tidur dengan nyenyak, kemudian membuat pola makannya normal, ia pun akan perlahan-lahan memulih.
Kemudian, temukan duduk permasalahnnya, apakah faktor psikis yang membuatnya mengalami gangguan tidur, atau fisiknya mengalami masalah sehingga mengalami gangguan tidur.
Ada sebagian orang seperti ini, ketidakseimbangan hormon membuatnya mengalami gangguan tidur, tubuh tiba-tiba dingin, tiba-tiba panas, kadang dingin, kadang panas, kadang-kadang tidak dapat tidur, kadang-kadang pemikirannya tidak dapat dikendalikan, karena terus memikirkan masalah, terus berpikir tidak berhenti, berpikir semalaman, juga tidak dapat membuatnya stop, tekanan itu harus dibuang.
Seperti Mahaguru tidur, tentu saja mudah, RANG seluruh tubuh berada di dalam api, api itu menyala, api RANG, api alam semesta membakar seluruh tubuh saya. YANG berubah menjadi vajra melintang di atas ranjang, ranjang berubah menjadi teratai, teratai adalah ranjang, berubah menjadi sebatang vajra, vajra yang sangat kokoh. KANG, vajra ini melayang, melayang bersama teratai, terbang ke angkasa, masuk ke dalam kesadaran alam semesta berubah menjadi sebuah titik, kemudian berubah menjadi tiada, maka terlelaplah, saya japa 3 aksara, lalu terlelap.
RANG api RANG menyala, membakar diri sendiri. YANG berubah menjadi vajra, melayang ke dalam angkasa alam semesta yang bersih dan terang, berubah menjadi setitik, berubah menjadi tiada, apapun tidak ada lagi, lalu terlelap. Anda masih ada kerisauan pun hilang, masalah yang dipikirkan dalam hati pun hilang, terlelap dalam kondisi tiada masalah dan tiada penyertaan hati, mudah sekali tidur, mana mungkin bisa mengalami gangguan tidur? Justru karena Anda ada masalah dan ada penyertaan hati, ada beban pikiran, ada kerisauan, ada masalah dan ada penyertaan hati, maka tidak bisa terlelap, berbaring dalam kondisi tiada masalah dan tiada penyertaan hati, maka berubah menjadi angkasa dan hilang, mana mungkin bisa mengalami gangguan tidur?
Oleh karena itu, insan justru ada masalah dan ada penyertaan hati, berpikir yang bukan-bukan, isi otak adalah hal-hal yang tidak bersih, harus dikeluarkan dan dicuci, bedah otak itu, semuanya dicuci bersih, semua benda kotor harus dibersihkan. Setelah dicuci bersih, maka menjadi bersih, tiada masalah dan tiada penyertaan hati maka dapat tertidur! Berpikir terlalu banyak juga bisa mengalami gangguan tidur, jadi, sama sekali bertolak belakang dengan melatih diri, diri sendiri berpikir, “Saya mau melatih diri, saya mau melatih diri, saya mau melatih diri.” Anda justru jauh dari melatih diri, makin lama makin jauh. Dari luar, Anda memang melatih diri, namun, sebenarnya sudah jauh dari melatih diri, Anda bahkan kurang layak menjadi seorang manusia normal. Oleh karena itu, memahami teori, praktek pembinaan diri harus dipadukan dengan teori.
Selanjutnya, menyampaikan bagaimana menjadi seorang yang mencapai pencerahan, teori pencerahan, kita semua juga tahu, Anda justru tidak dapat mencapai pencerahan, mengapa, karena sama sekali bertolak belakang.
Dari tidur, pola makannya, biarkan ia mengolah prana tubuh, kemudian simabandhana, memanjatkan Sutra, menjapa mantra, melimpahkan jasa, melakukan berbagai kebajikan, kemudina, kita bersadhana dan melimpahkan jasa padanya.
Om Mani Padme Hum.
Cruising of a Different Nature (Book no 157)
Terakhir, ia mengemukakan sebuah pertanyaan, “Jika menyimpang dalam melatih diri, berdiri pada posisi sebagai rekan se-Dharma, bagaimana seharusnya kita membantunya?”
Pertanyaan ini sangat besar, apa penyimpangan yang Anda maksud? Bagaimana penyimpangannya? Sama-sama melatih diri, orang ini menyimpang secara perilaku? Atau batinnya menyimpang? Atau jiwanya menyimpang? Penyimpangan ini beragam. Atau pemikirannya, konsepnya menyimpang? Entah yang mana?
(Jawab: penyimpangan jiwa.)
Biasanya, penyimpangan jiwa ada dua faktor, saya sering mengatakan, pertama, ia tidak dapat tidur dengan normal. Menurut medis, seseorang jika tidak tidur berhari-hari, kira-kira 3 hari, 4 hari, ia tidak dapat tidur, ia pun mengalami penyakit gila. Hanya 3-4 hari saja, ia sudah linglung. Jadi, tidur adalah asupan jiwa, saya pernah katakan.
Selain itu, ada satu hal lagi, biasanya, ada 2 gejala khusus, tanda khusus penderita sakit jiwa, pertama, ia tidak dapat tidur, kedua, ia tidak ada selera makan, pola makan tidak normal. Karena masalah tidur, juga mempengaruhi pola makannya, makan adalah asupan untuk badan.
Kita sadhaka sangat memperhatikan masalah tidur dan pola makan, yaitu tidur Anda harus normal, pola makan harus normal, baru bisa mempertahankan kesehatan badan Anda, Anda tidak ada badan yang sehat, bagaimana melatih diri? Tidur tidak normal, bahkan kebutuhan dasar manusia pun belum dapat Anda penuhi, bagaimana melatih diri? Prinsip yang sangat mudah, Anda bahkan tidak mampu mengatasi masalah tidur Anda, bagaimana Anda melatih diri? Atasi dulu masalah tidur dan pola makan Anda, lebih dulu menjadi manusia normal, yang satu ini sangat penting.
Biasanya, penderita sakit jiwa mengalami gangguan tidur. Selanjutnya? Pola makannya juga tidak normal.
Jadi, biasanya, kita menghadapi orang demikian, pertama, lebih dulu perbaiki tidurnya, biarkan ia dapat tidur dengan normal.
Dulu, saat saya belajar Dharma, Ia mengajari cara membuat jiwa kita dapat tenang, fu tersebut, jiwanya bisa tenang, semacam fu yang bisa membuat memasuki kondisi tidur normal.
Jika ada gangguan lain, harus ditemukan tanda-tanda gangguan lain, agar gangguannya sirna, misalnya ada yang tergolong rintangan karma kehidupan lampau, rintangan karma turun-temurun, gangguan roh luar, kita mesti melakukan simabandhana pada diri sadhana ini, agar roh luar tidak dapat mengganggunya.
Selain itu, masih harus dicari cara untuk menyingkirkan gangguan roh luar (roh dari luar yang mengganggunya), tentu saja, ini sangat merepotkan, namun, tidur itu pertama, biarkan ia tidur dengan normal. Selanjutnya, pola makan, biarkan ia makan dengan normal. Selama raganya bisa kokoh, raganya sendiri bisa kokoh, roh luar tidak dapat mengganggu.
Roh luar dapat mengganggu Anda, karena Anda sendiri sudah tidak stabil lagi, Ia baru mengganggu Anda. Anda sendiri berdiri sangat mantap ibarat vajra, Ia tidak dapat menggangu Anda, asalkan dapat menjauhi Anda, Ia sedang menunggu kesempatan. Begitulah yang saya lihat, di dunia ini, semua yang berwujud dan tidak berwujud, sudah banyak saya temui.
Gangguan dunia roh luar, karena Anda sendiri sudah lebih dulu ambruk, Anda sendiri sudah tidak mantap berdiri, Ia mendorong Anda perlahan saja, Anda sudah jatuh, Ia bisa sembarangan masuk dan mencaplok raga Anda, tentu saja Anda pun menjadi penderita sakit jiwa.
Jika jiwa Anda sendiri sangat kuat, tidur sangat normal, badan sangat kuat, energi Yang sangat kuat, ia sama sekali tidak dapat mengganggu Anda, Anda tidak tergoyahkan.
Oleh karena itu, kita sadhaka tidak boleh melatih diri hingga kondisi raga sangat lemah, sangat mengantuk, energi sangat lemah, linglung, berpikir yang bukan-bukan, otak dan jiwa berubah drastis, saat ini, Ia paling suka dengan Anda, ini masuk, itu keluar, ini masuk, itu keluar, tidak berhenti, setiap hari mengganggu Anda.
Kita olah prana, olah hingga menjadi energi yang sangat kuat, sama sekali tidak takut, apapun tidak takut, disebut Abhaya.
Buddha membentuk Mudra Abhaya, Ia tidak takut apapun, semuanya tidak ada yang ditakutkan, dewa, hantu, sesat, siluman, takut apa? Apa yang ditakutkan? Jadi, diri sendiri ambruk lebih dulu, Anda sendiri berdiri sangat tegak, apapun tidak perlu takut.
Di dalam Tantra ada olah prana, prana tubuh Anda tidak boleh sangat lemah, harus olah prana tubuh Anda sendiri, bahkan membuat prana sendiri dapat melancarkan semua nadi. Karena begitu nadi tersumbat, prana tidak dapat mengalir lancar, tubuhnya akan lemah sekali.
Kita melatih prana, melatih nadi, melatih bindu itu melatih badan kita. Karena raga kita sangat kuat, batin Anda sangat sehat, tidak takut roh luar.
Kedua hal ini diatasi dari kedua aspek, pertama, tidur Anda harus normal, jiwa Anda pun akan normal. Pola makan harus normal, raga Anda akan normal. Jiwa dan raga normal, energi Yang kuat ada, mana takut gangguan roh luar?
Jadi, setiap penderita sakit jiwa yang datang, pasti mengalami gangguan tidur, serratus persen.
Rekan se-Dharma sendiri mengalami gangguan jiwa, menyimpang, atau bagaimana, ia tentu mengalami gangguan tidur, mudah sekali! Bisa dipastikan bahwa ia mengalami gangguan tidur, tidur normal masih bisa demikian? Anda mengalami gangguan tidur, Anda melihat wajahnya, sangat merana, gelap, seluruh tubuh adalah hawa hitam, roh luar sangat suka, ini masuk, itu keluar, ini masuk, itu keluar, mengganggu Anda, prinsip yang sangat mudah.
Pertama, Anda benar-benar mengalami gangguan tidur, usahakan periksakan diri ke dokter, minum obat! Supaya jiwa Anda memulih, setelah itu tolak obat-obatan, kemudian melatih diri lagi perlahan-lahan.
Anda mengalami masalah psikis, cari psikiater, seimbangkan psikis Anda, supaya Anda bisa tidur pada malam hari, bahkan dapat tidur lelap, terang, dan bersih.
Seorang sadhaka harus tidur lelap, bersih, terang, saat ini, Anda di dalam tidur, hawa langit bumi di alam semesta melebur dengan Anda, terang bersama dengan Anda, kondisi bersih menyatu dengan Anda, ini baru benar! Ini barulah melatih diri yang sesungguhnya.
Tadi, Lianye menyampaikan bahwa teori dan praktek harus selaras, inilah keselarasan teori dan praktek. Anda tidur pun tidak bisa, secara teori saya tahu harus bersih, tidak dapat bersih, teori dan praktek tidak selaras. Harus terang, hati tidak terang. Tidur harus lelap, setiap sadhaka harus tidur di dalam terang, tidur sangat nyaman, bersih, lelap, jika tidak mampu, teori dan praktek tidak selaras, apakah ini yang disebut melatih diri?
Ini tentu bukan melatih diri.
Oleh karena itu, jiwanya mengalami penyimpangan, ditangani dari tidurnya, ditangani dari pola makannya, biarkan ia tidur lelap, pola makan normal, kemudian melakukan simabandhana pada tubuhnya, cari cara memanjatkan Sutra, menjapa mantra dilimpahkan jasa pada roh luar.
Milarepa juga pernah bertemu tanda-tanda roh luar, Anda boleh belajar, Ia kadang-kadang memujinya, kadang-kadang memberikan persembahan padanya, akhirnya mengubah diri sendiri menjadi tiada, menganggap roh luar ini sebagai rekan se-Dharma, ia justru membantu Anda, tanda-tanda yang sangat istimewa. Ini tentu sangat dalam, dapat berkomunikasi dengan roh luar, bahkan dapat mengunggulinya, menganggapnya menjadi tiada, ini adalah ilmu yang sangat dalam. Tidak sebatas ilmu. Juga semacam kemampuan yang Anda hasilkan dalam melatih diri, keselarasan teori dan praktek! Di sini ada bermacam-macam cara membantunya, namun, dua hal yang penting, lebih dulu membuatnya tidur dengan nyenyak, kemudian membuat pola makannya normal, ia pun akan perlahan-lahan memulih.
Kemudian, temukan duduk permasalahnnya, apakah faktor psikis yang membuatnya mengalami gangguan tidur, atau fisiknya mengalami masalah sehingga mengalami gangguan tidur.
Ada sebagian orang seperti ini, ketidakseimbangan hormon membuatnya mengalami gangguan tidur, tubuh tiba-tiba dingin, tiba-tiba panas, kadang dingin, kadang panas, kadang-kadang tidak dapat tidur, kadang-kadang pemikirannya tidak dapat dikendalikan, karena terus memikirkan masalah, terus berpikir tidak berhenti, berpikir semalaman, juga tidak dapat membuatnya stop, tekanan itu harus dibuang.
Seperti Mahaguru tidur, tentu saja mudah, RANG seluruh tubuh berada di dalam api, api itu menyala, api RANG, api alam semesta membakar seluruh tubuh saya. YANG berubah menjadi vajra melintang di atas ranjang, ranjang berubah menjadi teratai, teratai adalah ranjang, berubah menjadi sebatang vajra, vajra yang sangat kokoh. KANG, vajra ini melayang, melayang bersama teratai, terbang ke angkasa, masuk ke dalam kesadaran alam semesta berubah menjadi sebuah titik, kemudian berubah menjadi tiada, maka terlelaplah, saya japa 3 aksara, lalu terlelap.
RANG api RANG menyala, membakar diri sendiri. YANG berubah menjadi vajra, melayang ke dalam angkasa alam semesta yang bersih dan terang, berubah menjadi setitik, berubah menjadi tiada, apapun tidak ada lagi, lalu terlelap. Anda masih ada kerisauan pun hilang, masalah yang dipikirkan dalam hati pun hilang, terlelap dalam kondisi tiada masalah dan tiada penyertaan hati, mudah sekali tidur, mana mungkin bisa mengalami gangguan tidur? Justru karena Anda ada masalah dan ada penyertaan hati, ada beban pikiran, ada kerisauan, ada masalah dan ada penyertaan hati, maka tidak bisa terlelap, berbaring dalam kondisi tiada masalah dan tiada penyertaan hati, maka berubah menjadi angkasa dan hilang, mana mungkin bisa mengalami gangguan tidur?
Oleh karena itu, insan justru ada masalah dan ada penyertaan hati, berpikir yang bukan-bukan, isi otak adalah hal-hal yang tidak bersih, harus dikeluarkan dan dicuci, bedah otak itu, semuanya dicuci bersih, semua benda kotor harus dibersihkan. Setelah dicuci bersih, maka menjadi bersih, tiada masalah dan tiada penyertaan hati maka dapat tertidur! Berpikir terlalu banyak juga bisa mengalami gangguan tidur, jadi, sama sekali bertolak belakang dengan melatih diri, diri sendiri berpikir, “Saya mau melatih diri, saya mau melatih diri, saya mau melatih diri.” Anda justru jauh dari melatih diri, makin lama makin jauh. Dari luar, Anda memang melatih diri, namun, sebenarnya sudah jauh dari melatih diri, Anda bahkan kurang layak menjadi seorang manusia normal. Oleh karena itu, memahami teori, praktek pembinaan diri harus dipadukan dengan teori.
Selanjutnya, menyampaikan bagaimana menjadi seorang yang mencapai pencerahan, teori pencerahan, kita semua juga tahu, Anda justru tidak dapat mencapai pencerahan, mengapa, karena sama sekali bertolak belakang.
Dari tidur, pola makannya, biarkan ia mengolah prana tubuh, kemudian simabandhana, memanjatkan Sutra, menjapa mantra, melimpahkan jasa, melakukan berbagai kebajikan, kemudina, kita bersadhana dan melimpahkan jasa padanya.
Om Mani Padme Hum.
Cruising of a Different Nature (Book no 157)
Kamis, 17 Juli 2014
BEYOND BELIEF ( BAGIAN 9 - AKHIR)
Bab IX
Kesimpulan
Jika apa yang telah ditulis sejauh ini telah merangsang para pembaca untuk mengetahui lebih banyak tentang agama Kristen maupun Buddha, kita akan secara singkat mengajurkan Anda untuk membaca beberapa buku lain.
Sebuah buku yang terkenal dan mudah untuk dibaca yang membuka pikiran-pikiran keliru Kristen terhadap Yesus adalah “Evidence” oleh Ian Wilson, 1984. Wilson meneliti sejarah Alkitab dan menunjukkan bagaimana para sarjana Alkitab telah membuktikan tanpa ragu bahwa Alkitab adalah kumpulan yang tidak berantakan yang terkumpul selama beratus-ratus tahun. Dia juga menunjukkan bagaimana Yesus sang manusia secara bertahap-tahap dianggap sebagai Tuhan.
Sebuah buku lain adalah Rescuing the Bible from Fundamentalis” oleh John Spong, 19891. Spong adalah seorang uskup Kristen dan sarjana yang secara terbuka mengakui bahwa kebanyakan isi Alkitab adalah penuh cerita Mitos (khayalan) datau banyak salahnya, dan dia memberikan segudang bukti terhadap pengakuannya itu.
Mungkin buku yang paling ilmiah dan dengan studi-studi yang mengena dijaman modern ini adalah “Is Christianity True?” oleh Michael Arnheim, 1984. Studi yang mengagumkan ini meneliti setiap ajaran Kristen yang berpengaruh, dan membuka satu per satu dari mereka dibawah sorotan akal budi, dan tidak satupun dari ajaran itu yang lulus.
Banyak buku-buku yang baik sekali yang membahas ajaran-ajaran Sang Buddha. Suatu buku yang memperkenalkan ajaran Buddha adalah “The Life of the Buddha” oleh H. Saddhatissa, 1988. Buku ini berisi riwayat Sang Buddha dengan sangat lugas dan berisi pula tulisan-tulisan tentang ajaran dasar agama Buddha.
“What the Buddha Taught” oleh W. Rahula, 1985 dan “The Buddha’s Ancient Path” oleh Piyaddasi Thera,1979 juga buku-buku yagn baik bagi pemula.
“A Buddhist Critique of the Christian Concept of God” oleh G. Dharmasiri, 1988 adalah buku yang sangat baik dan berisi penelitian-penelitian yang sangat seksama terhadap konsep Protestan tetang Tuhan dari sudut pandang Buddhis.
Buku yang paling menarik adalah “Two Masters One Message” oleh Roy Amore, 1978. Di dalam studi ini, sang pengarang menunjukkan bahwa kebanyakan yang diajarkan oleh Yesus telah berasal dari agama Buddha.
Orang-orang Kristen Fundamentalis, merupakan ancaman bagi Buddhisme, dan sementara kita tidak bisa berharap untuk menandingi sikpa agresif mereka ataupun kemampuan berorganisasi mereka, kita bisa dengan mudah membalas mereka dengan mengetahui banyak kelemahan dari ajaran agama mereka, dan mengetahui banyak kekuatan ajaran Buddhisme.
Kalau tantangan Kristen bisa merangsang umat Buddha untuk menghargai Dhamma, dan hidup di dalam Dhamma, maka tantangan itu bermanfaat untuk Buddhisme.
Kesimpulan
Jika apa yang telah ditulis sejauh ini telah merangsang para pembaca untuk mengetahui lebih banyak tentang agama Kristen maupun Buddha, kita akan secara singkat mengajurkan Anda untuk membaca beberapa buku lain.
Sebuah buku yang terkenal dan mudah untuk dibaca yang membuka pikiran-pikiran keliru Kristen terhadap Yesus adalah “Evidence” oleh Ian Wilson, 1984. Wilson meneliti sejarah Alkitab dan menunjukkan bagaimana para sarjana Alkitab telah membuktikan tanpa ragu bahwa Alkitab adalah kumpulan yang tidak berantakan yang terkumpul selama beratus-ratus tahun. Dia juga menunjukkan bagaimana Yesus sang manusia secara bertahap-tahap dianggap sebagai Tuhan.
Sebuah buku lain adalah Rescuing the Bible from Fundamentalis” oleh John Spong, 19891. Spong adalah seorang uskup Kristen dan sarjana yang secara terbuka mengakui bahwa kebanyakan isi Alkitab adalah penuh cerita Mitos (khayalan) datau banyak salahnya, dan dia memberikan segudang bukti terhadap pengakuannya itu.
Mungkin buku yang paling ilmiah dan dengan studi-studi yang mengena dijaman modern ini adalah “Is Christianity True?” oleh Michael Arnheim, 1984. Studi yang mengagumkan ini meneliti setiap ajaran Kristen yang berpengaruh, dan membuka satu per satu dari mereka dibawah sorotan akal budi, dan tidak satupun dari ajaran itu yang lulus.
Banyak buku-buku yang baik sekali yang membahas ajaran-ajaran Sang Buddha. Suatu buku yang memperkenalkan ajaran Buddha adalah “The Life of the Buddha” oleh H. Saddhatissa, 1988. Buku ini berisi riwayat Sang Buddha dengan sangat lugas dan berisi pula tulisan-tulisan tentang ajaran dasar agama Buddha.
“What the Buddha Taught” oleh W. Rahula, 1985 dan “The Buddha’s Ancient Path” oleh Piyaddasi Thera,1979 juga buku-buku yagn baik bagi pemula.
“A Buddhist Critique of the Christian Concept of God” oleh G. Dharmasiri, 1988 adalah buku yang sangat baik dan berisi penelitian-penelitian yang sangat seksama terhadap konsep Protestan tetang Tuhan dari sudut pandang Buddhis.
Buku yang paling menarik adalah “Two Masters One Message” oleh Roy Amore, 1978. Di dalam studi ini, sang pengarang menunjukkan bahwa kebanyakan yang diajarkan oleh Yesus telah berasal dari agama Buddha.
Orang-orang Kristen Fundamentalis, merupakan ancaman bagi Buddhisme, dan sementara kita tidak bisa berharap untuk menandingi sikpa agresif mereka ataupun kemampuan berorganisasi mereka, kita bisa dengan mudah membalas mereka dengan mengetahui banyak kelemahan dari ajaran agama mereka, dan mengetahui banyak kekuatan ajaran Buddhisme.
Kalau tantangan Kristen bisa merangsang umat Buddha untuk menghargai Dhamma, dan hidup di dalam Dhamma, maka tantangan itu bermanfaat untuk Buddhisme.
BEYOND BELIEF (BAGIAN 8 )
Bab VIII
Bagaimana Kita Menjawab Pertanyaan Para Penyebar Injil
Sebagai bagian dari usaha mereka untuk mempromosikan iman mereka, para penyebar Injil seringkali menanyakan pertanyaan kepada umat Buddha, yang bertujuan untuk membingungkan atau melemahkan umat Buddha. Kita akan melihat kepada beberapa pertanyaan dan komentar-komentar mereka, dan memberikan jawaban-jawaban Buddhis.
(Catatan dari penterjemah: Seringkali tujuan orang-orang Kristen untuk membingungkan dan melemahkan umat Buddha berhasil, karena: 1. Orang Buddhis yang mereka pertanyakan bukanlah orang Buddhis yang sering ke Vihara, atau yang banyak belajar tentang Dhamma. 2. Pertanyaan-pertanyaan yang mereka tanyakan telah mereka persiapkan berikut jawaban dari mereka sendiri yang semua dari pertanyaan itu adalah berdasarkan KONSEP PIKIRAN DAN MENTAL orang-orang Kristen. Sehingga mereka bisa memberikan jawaban, komentar yang bersifat Kristen pula. Itulah yang membuat orang Kristen KELIHATAN mempunyai jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang membingungkan umat Buddha itu. Pernah sekali saya diajak berdiskusi, seorang penyebar Injil Kristen yang taat ke kebaktian agamanya dan pintar akan Alkitab mengatakan bahwa Sang Buddha bagi orang Buddha setingkat dengan Yesus dalam Agama Kristen, dan Maria perawan suci oleh orang Kristen, setingkat dan sama halnya dengan Dewi Kwan Im. Ini adalah pertanyaan yang bodoh dan menggelikan. Pertanyaan-pertanyaan seperti itulah yang menyesatkan dan membingungkan. Dengan dalih, Buddha tidak bisa menyelamatkan manusia, tetapi Yesus bisa.)
Kamu Tidak Percaya Kepada Tuhan, Sehingga Kamu Tidak Bisa Menjelaskan Asal Mula Dunia Ini.
Memang benar Kristen mempunyai penjelasan tentang bagaimana semuanya bermula. Tetapi apakah penjelasan itu benar? Marilah kita teliti. Alkitab mengatakan bahwa Tuhan menciptakan segalanya dalam enam hari dan pada hari ketujuh, Ia beristirahat. Cerita yang aneh ini tidaklah lebih dari sekedar sebuah dongeng, dan tidak lebih benar daripada dongeng Hindu yang mengatakan para dewa menciptakan semuanya dengan mengocok susu yang sebanyak air di laut, atau kepercayaan kuno bahwa alam semesta ini ditetaskan dari sebutir telur kosmos.
Beberapa bagian dari dongeng penciptaan ini adalah tidak masuk akal. Contohnya, dikatakan pada hari pertama Tuhan menciptakan terang dan gelap tetapi pada hari keempat Dia menciptakan matahari (Kejadian 1:15-16).
Bagaimana bisa ada siang dan malam tanpa matahari?
Dongeng penciptaan ini juga bertentangan dengan ilmu pengetahuan moderen yang telah membuktikan tentang awal alam semesta, dan bagaimana kehidupan berkembang. Tidak ada bagian di ilmu perbintangan atau biologi di perguruan tinggi manapun di dunia ini yang mengajarkan dongeng penciptaan dengan alasan sederhana, bahwa dongeng tersebut tidak berdasarkan kenyataan.
Maka, memang benar Kristen mempunyai penjelasan tentang awal mula sesuatu (seperti halnya kebanyakan agama juga punya penjelasan sendiri), tetapi penjelasan itu hanyalah dongeng belaka.
Lalu apa yang Buddhisme katakan tentang awal mula segala sesuatu?
Buddhisme mengatakan hal yang sedikit sekali tentang hal ini dan dengan alasan yang sangat masuk akal. Tujuan dari Buddhisme adalah untuk mengembangkan kebijaksanaan dan belas kasihan sehingga bisa mencapai Nibbana. Mengetahui asal mula dunia tidak membantu kita mengembangkan cinta kasih dan kebijaksanaan untuk mencapai Nibbana.
Pernah sekali seorang meminta Sang Buddha untuk memberitahu dia bagaimana alam semesta ini bermula. Sang Buddha mengatakan kepadanya “Kamu seperti orang yang baru saja di panah dengan anak panah beracun, dan ketika dokter datang untuk mencabut anak panah tersebut, kamu mengatakan ‘Tunggu! Sebelum anak panah ini dicabut saya mau tau nama orang yang memanah anak panah ini, dari suku/keluarga mana dia berasal, dari kampung mana dia dilahirkan. Saya ingin mengetahui dari jenis kayu apa busurnya terbuat, bulu apa yang digunakan di ujung anak panah ini, seberapa panjang anak panah ini, dan lain-lain, dan lain-lain.’ Orang itu akan mati sebelum semua pertanyaan itu bisa terjawab. Tugas saya adalah untuk membantu kamu untuk mencabut anak panah penderitaan dari dirimu sendiri.” (Majjhima Nikaya Sutta No.63)
Buddhisme mengkonsentrasikan kepada membantu kita semua memecahkan masalah-masalah hidup – sehingga tidak mendukung tebakan-tebakan yang tidak berguna. Dan jika seorang umat Buddhis ingin mengetahui bagaimana dan awal mula alam semesta, ia akan menanyakan pertanyaan ini kepada seorang ilmuwan.
Agama Buddha Tidak Bisa Diterapkan Karena Dikatakan Kamu Tidak Bisa Membunuh Seekor Semut Sekalipun
Sebelum kita membela ajaran Sang Buddha terhadap vonis tentang ajaran yang tidak bisa diterapkan, marilah kita melihat apakah ajaran Kristen bisa diterapkan. Menurut Yesus, jika seseorang menampar kita di salah satu pipi kita, kita hendaknya memberikan pipi yang lain untuk ditampar juga. (Matius 5:25).
Kalau kita menemukan seseorang telah mencuri celana kita, kita harus pergi keluar dan memberikan maling itu pakaian kita juga (Matius 5:30).
Jika kita tidak bisa menahan diri dari mencuri, kita harus memotong tangan kita sendiri (Matius 5:30).
Kita bisa mengatakan semua ajaran yang tercantum di ayat-ayat di atas tidak bisa diterapkan, meskipun orang Kristen akan lebih suka menyebutnya sebagai tantangan daripada tidak bisa diterapkan.
Dan tentunya mereka benar. Untuk bisa memberikan pipi yang lain utuk ditampar sekali lagi tidaklah mudah. Hal ini memerlukan kita untuk mengendalikan amarah kita dan dengan melakukan hal ini bisa menolong untuk mengembangan kesabaran, kerendahan hati, tidak membalas, dan cinta kasih. Kalau kita tidak tertantang kita tidak akan maju.
Sang Buddha meminta kita untuk menghormati semua mahluk, bahkan mahluk-mahluk yang rendah. Mengenai memberikan pipi yang lain, ini tidaklah selalu mudah. Seperti bagi banyak orang, mahluk-mahluk seperti semut bisa sangat mengganggu dan tidak menyenangkan. Ketika kita bertekad untuk tidak membunuh dan berusaha untuk menjalankan tekad itu, kita tertantang untuk menimbulkan kesabaran, kerendahan hati, cinta kasih dan sebagainya. Jadi dengan meminta kita menghormati semua jenis kehidupan, ajaran Buddhis dan ajaran Kristen sama saja sulit untuk diterapkan.
Sang Buddha Telah Mati, Maka Dia Tidak Bisa Menolong Dirimu
Umat Buddhis terkadang mengalami kesulitan untuk menjawab secara benar ketika orang Kristen mengatakan hal ini. Akan tetapi kalau kita mengetahui Dhamma dengan baik, akan dengan sangat mudah kita bisa menyangkal pernyataan seperti itu. Karena pernyataan seperti itu dan juga pernyataan-pernyataan yang sering orang Kristen ucapkan tentang agama Buddha adalah berdasarkan kesalahpahaman.
Pertama-tama, Sang Buddha tidaklah mati. Beliau telah mencapai Nibbana, sebuah keadaan yang bebas dan damai sama sekali. Nama lain yang diberikan Sang Buddha kepada Nibbana adalah Keadaan Yang Tidak Mati (Amita) karena setelah seorang mencapai Nibbana, orang itu tidak akan terlahir lagi, dengan tidak terlahir, maka ia juga tidak mati. Tentu saja Nibbana bukanlah “kehidupan abadi” yang naif seperti yang digambarkan di Alkitab, di mana badan dibangkitkan dan malaikat bernyanyi. Kenyataannya, Nibbana itu sangat halus sehingga tidak mudah untuk dijelaskan. Akan tetapi Nibbana bukanlah ketidakadaan, seperti yang telah Sang Buddha jelaskan. (Majjhima Nikaya Sutta No72; Sutta Nipata, Verse 1076)
Dan juga sama tidak benarnya untuk mengatakan bahwa Buddha tidak bisa menolong kita. Selama empat puluh tahun, Sang Buddha menjelaskan dengan sangat mendetil dan dengan kejelasan yang mengagumkan, semua yang kita perlukan untuk mencapai Nibbana. Semua yang kita perlukan untuk lakukan adalah untuk mengikuti petunjuk-petunjuk beliau. Kata-kata Beliau sangatlah membantu dan berlaku di jaman sekarnag, seperti halnya sangatlah membantu dan berlaku di saat pertama kali diajarkan 2500 tahun yang lalu. Tentu saja Buddha tidak membantu kita dengan cara yang diambil Yesus menurut orang Kristen.
Dan Buddha tidak membantu demikian dengan alasan yang sangat baik. Jika seorang murid tau bahwa sewaktu ujian dia bisa menanyakan jawaban atas pertanyaan ujian kepada gurunya, dia tidak akan belajar, sehingga dia tidak akan pernah bisa tau dan berusaha sendiri. Jika seorang olahragawan tahu bahwa hanya dengan meminta juri untuk memberi dia kemenangan, dia tidak akan peduli untuk melatih tubuh dan memajukan prestasinya. Sekedar memberi apa yang orang minta tidaklah menolong mereka dengan benar. Bahkan kenyataannya, hal itu hanya akan memastikan bahwa orang yang meminta itu akan tetap lemah, penuh ketergantungan dan malas.
Sang Buddha memberi petunjuk menuju Nibbana dan mengajarkan kita bekal-bekal apa yang kita perlukan untuk perjalanan menuju Nibbana. Seiring dengan perjalanan itu, kita akan belajar dari pengalaman-pengalaman kita dan dari kesalahan-kesalahan kita, meningkatkan kekuatan, kedewasaan dan kebijaksanaan. Hasilnya ketika kita selesai menempuh perjalanan ini, kita akan menjadi orang-orang yang berbeda sama sekali dibandingkan dengan kita sewaktu memulai perjalanan. Berkat bantuan Sang Buddha yang cermat kita akan mencapai Kesunyataan.
Maka untuk mengatakan bahwa Sang Buddha telah mati dan tidak bisa menolong kita tidak hanya salah, tetapi juga secara tidak langsung mengatakan bahwa Yesus itu hidup dan bisa menolong dirimu. Marilah kita lihat kepada pendapat ini. Orang-orang Kristen menyatakan bahwa Yesus itu hidup, tetapi bukti apa yang ada tentang hal ini? Mereka akan mengatakan bahwa Alkitab membuktikan Yesus bangkita di antara orang-orang mati. Sungguh sial, pernyataan-pernyataan yang ditulis oleh beberapa orang beberapa ribu tahun yang lalu tidaklah membuktikan apa-apa.
Sebuah pernyataan di Mahabharata (salah satu Kitab Suci orang Hindu) mengatakan bahwa seorang suci mempunyai kendaraan yang bisa terbang. Tetapi apakah ini membuktikan bahwa orang India kuno menemukan pesawat terbang? Tentu saja tidak.
Tulisan-tulisan kuno Mesir mengatakan bahwa Dewa Khnum menciptakan segalanya dari tanah yang dia bentuk dari roda pembuat kendi.
Apakah ini membuktikan bahwa semua yang ada itu adalah tanah? Tentu saja tidak.
Sebuah ayat di dalam Perjanjian Lama mengatakan seorang bernama Balaam mempunyai keledai yang bisa berbicara.
Apakah ayat itu membuktikan bahwa semua binatang bisa berbicara? Tentu saja tidak.
Kita tidak bisa secara tidak menanyakan secara kritis, menerima klaim yang dibuat oleh Alkitab ataupun kitab suci lain bulat-bulat. Ketika kita meneliti klaim-klaim tentang kebangkitan Yesus, kita telah menemukan alasan yang sangat baik untuk tidak percaya kepada klaim-klaim tersebut.
Bahkan, Alkitab sendiri membuktikan bahwa Yesus tidaklah hidup. Sebelum Yesus disalibkan, Yesus memberitahu murid-muridnya bahwa dia akan kembali sebelum yang terakhir dari mereka mati. (Matius 10:23, 16:28, Lukas 21:32). Hal itu diucapkan 2000 tahun yang lalu. Yesus masih belum kembali. Mengapa? Tentunya karena dia sudah mati.
Pendapat kedua bahwa Yesus selalu menjawab ketika kamu berdoa kepadanya. Sangatlah mudah untuk membuktikan bahwa ini tidak benar. Orang-orang Kristen meninggal karena penyakit, ketidakberuntungan, mempunyai masalah-masalah emosi, menyerah ke dalam godaan, dll seperti halnya orang yang tidak beragama Kristen.
Padahal orang Kristen memohon pertolongan dari Yesus lewat doa-doa mereka. Saya mempunyai seorang teman yang Kristen yang beriman untuk selama bertahun-tahun. Secara bertahap dia mulai ragu dan meminta bantuan dari pendeta. Sang pendeta memberi petunjuk kepadanya untuk berdoa, dan bahkan meminta anggota gereja untuk berdoa bagi teman ini.
Akan tetapi, meskipun semua doa ke Yesus untuk kekuatan dan petunjuk, keraguan teman saya ini semakin bertambah, dan akhirnya meninggalkan gereja. Kemudian dia menjadi umat Buddha. Jika Yesus benar-benar hidup dan siap membantu, mengapa orang-orang Kristen mempunyai problem yang sama banyaknya dengan orang-orang non-Kristen?
Mengapa Yesus tidak menjawab doa-doa teman saya dan membantunya untuk tetap menjadi orang Kristen? Tentunya karena Yesus telah mati dan tidak bisa membantu.
Dalam menjawab sangkalan ini, orang-orang Kristen akan mengatakan bahwa ada orang-orang yang bisa bersaksi bahwa doa-doa mereka telah dijawab (terkabulkan).
Kalau benar demikian, orang-orang yang beriman kepada Islam, Hindu, Seikh, Tao, Shinto, Kuan Im juga bisa memberikan kesaksian yang sama.
Tidak Seperti Kristiani, Buddhisme Menganut Paham Yang Pesimis
Menurut kamus Webster, pesimisme adalah “kepercayaan bahwa kejahatan di dalam hidup ini melebihi kebaikan” – “the belief that evil in life outweighs the good”. Adalah hal yang menarik bahwa orang-orang Kristen menuduh umat-umat Buddha pesimis karena justru pendapat bahwa kejahatan melebihi kebaikan adalah ajaran pusat agama Kristen, bukan ajaran pokok Buddha.
Dua ayat Alkitab yang orang Kristen fanatik yang paling suka kutip adalah “Seperti ada tertulis: Tidak ada yang benar, seorangpun tidak.”(Roma 3:10) dan “Sesungguhnya, di bumi tidak ada orang yang saleh: yang berbuat baik dan tidak pernah berbuat jahat.” (Pengkhotbah 7:20).
Ajaran tentang Dosa Asal mengajarkan bahwa semua manusia adalah pembuat dosa, tidak bisa melepaskan dirinya sendiri dari dosa, dan kejahatan di dalam diri kita lebih kuat daripada kebaikan (Roma 7:14-24).
Orang-orang Kristen akan mengatakan memang benar demikian, kita bisa terbebas dari dosa jika kita menerima Yesus. Mungkin kita bisa terbebas kalau menerima Yesus, tetapi kenyataan mengatakan bahwa orang-orang Kristen membutuhkan Yesus karena pandangan orang Kristen tentang watak dasar manusia yang pesimis sama sekali.
Ajaran Sang Buddha, di sisi yang lain, mempunyai pandangan sangat berbeda dan lebih nyata tentang watak dasar manusia. Sementara menyadari bahwa manusia bisa berbuat jahat, Buddhisme mengajarkan kita untuk menaklukkan kejahatan dan melakukan kebaikan melalui usaha kita sendiri.
(Catatan dari penterjemah: Pesimis juga sering diartikan orang tidak mau berusaha karena tau bahwa apapun yang diusahakan akan gagal. Apakah ajaran Sang Buddha pesimis? Justru Sang Buddha mendukung kita berusaha karena kita bisa melepaskan diri dari penderitaan, karena ajaran Sang Buddha yang diusahakan dan dijalankan akan berhasil. Karena penderitaan itu BISA ditaklukkan, itu adalah pandangan yang SANGAT OPTIMIS. Jadi pendapat orang Kristen bahwa ajaran Sang Buddha pesimis adalah omong kosong yang bodoh.)
“Abaikan yang salah. Pengabaian itu bisa dilakukan. Kalau pengabaian ini mustahil, Saya tidak akan mendukung kamu untuk melakukannya. Tetapi berhubung hal ini bisa dilaksanakan, Saya katakan kepadamu: “Abaikan yang salah”. Kalau mengabaikan yang salah membawa kerugian dan kesedihan, Saya tidak akan mendukung kamu untuk melakukannya. Tetapi berhubung hal ini menghasilkan manfaat dan kebahagiaan, Saya dukung kamu: “Abaikan yang salah”. Tanamkanlah kebaikan. Menanam kebaikan bisa dilakukan. Kalau hal ini tidak bisa dilakukan, Saya tidak akan mendukung kam untuk melakukannya. Tetapi berhubung hal ini bisa dilakukan, Saya katakan kepadamu:”Tanamkanlah kebaikan.” Kalau menanam kebaikan membawa kerugian dan kesedihan, Saya tidak akan mendukung kamu untuk melakukannya. Tetapi berhubung menanam kebaikan menghasilkan maanfaat dan kebahagiaan, Saya dukung kamu:” Tanamkanlah kebaikan.” “(Anguttara Nikaya, Book of Twos, Sutta No.9)
Entah seorang setuju atau tidak terhadap ajaran Sang Buddha, tentunya orang itu tidak akan mengatakan ajaran Sang Buddha itu pesimistis.
Yesus Mengajarkan Kita Untuk Mengasihi Tetapi Buddhisme Mengajarkan Kita Untuk Menjadi Dingin Dan Tak Berperasaan
Ini tidaklah benar. Sang Buddha berkata kita hendaknya mengembangkan cinta kasih yang hangat dan penuh perhatian kepada semua manusia (Catatan dari penterjemah: Dan semua makhluk)
Seperti ibu yang bersedia melindungi anak satu-satunya meskipun dengan mempertaruhkan nyawanya sendiri, demikian juga seseorang hendaknya menghasilkan cinta kasih tak bersyarat kepada semua mahluk. (Sutta Nipata Verse 150)
Dalam semua segi, cinta kasih itu sama pentingnya dan ditekankan bagi ajaran agama Buddha dan Kristiani. Akan tetapi ada sesuatu yang merusak praktek cinta kasih orang-orang Kristen. Desakan mereka yang keras suaranya mengatakan bahwa hanya merekalah yang mempunyai cinta kasih, dan kualitas dari cinta kasih mereka jauh lebih unggul daripada cinta kasih lain, dan penghinaan juga ejekan mereka yang terus menerus kepada usaha orang lain untuk melaksanakan cinta kasih membuat mereka terlihat berbeda sama sekali dari yang lain. Begitu picik dan cemburunya beberapa orang Kristen sampai mereka tidak bisa memuji atau menghargai kualitas cinta kasih yang sama indahnya, kecuali ada tulisan “Buatan Yesus” tertempel di atasnya.
Kamu Mengklaim Bahwa Setelah Meninggal, Kita Akan Dilahirkan Kembali, Tetapi Tidak Ada Bukti Nyata Adanya Kelahiran Kembali.
(Catatan dari penterjemah: Kelahiran kembali atau reinkarnasi adalah salah satu topik yang cukup luas dan perlu diterangkan secara terperinci. Untuk itu, para pembaca disarankan untuk mencari buku-buku Buddhis secara umum, yang mana terdapat satu bab khusus tentang “kelahiran kembali” atau “reinkarnasi” atau “tumimbal lahir”. Buku-bukut tersebut tersedia secara gratis kalau Anda pergi ke Vihara ataupun ke perpustakaan umum. Alasan mengapa muncul pernyataan seperti yang tertera di atas, karena sekali lagi orang Kristen telah menggunakan logika, mental, dan pengetahuan Kristiani mereka dalam mempertanyakan sesuatu. Satu hal yang pasti: Alam sesudah kematian yang berakibatkan tumimbal lahir telah mempunyai dasar kuat untuk dijadikan bukti. Surga orang Kristen di lain pihak, sampai sekarang belum terbukti ada.)
Sebelum kita memberi jawaban, marilah kita membandingkan teori-teori sesudah kematian dari agama Kristen dan Buddha. Menurut Kristiani, Tuhan menciptakan sebuah jiwa (roh) baru yang menjadi manusia yang hidup lalu mati. Setelah kematian, jiwa itu (roh) itu akan pergi ke surga abadi kalau percaya kepada Yesus, atau ke neraka abadi kalau ia tidak percaya kepada Yesus. Menurut Buddhisme, adalah tidak mungkin untuk megira-ngira awal mutlak atas keberadaan sesuatu. Setiap mahluk hidup, mati dan dilahirkan kembali ke dalam keberadaan baru. Proses mati dan dilahirkan kembali ini adalah suatu proses yang alamai dan dapat berlangsung selamanya kecuali ia mencapai Nibbana. Ketika satu mahluk mencapai Nibbana, pengertian mereka dan secara pasti juga kelakuan mereka berubah. Kelakuan yang berubah inilah yang juga merubah proses yang menyebabkan kelahiran kembali.
Jadi bukan dilahirkan kembali, melainkan menjadi keberadaan baru yang mencapai Nibbana. Nibbana bukanlah keberadaan (untuk menjadi ada (dalam arti mahluk) berarti mempunyai reaksi terhadap indera, untuk tumbuh, membusuk, untuk berpindah dalam waktu dan ruang, untuk dilahirkan kembali menjadi mahluk baru, dll). Nibbana juga bukanlah ketidakberadaan, dalam arti Nibbana bukanlah penghancuran. Dalam kata lain, keberadaan suatu mahluk itu tidak ada awalnya dan tidak ada akhirnya kecuali Nibbana dicapai. Mencapai Nibbana adalah satu-satunya alasan untuk hidup.
(Catatan dari penterjemah: Para pembaca mungkin kurang bisa menyerap arti yang tertulis di atas. Yang dimaksudkan adalah: Nibbana bukanlah kekosongan atau kehancuran dari yang hidup, tetapi bukan juga keberadaan atau tempat kehidupan (dalam arti hidup, karena untuk hidup berarti untuk mempunyai unsur Lima Kandha seperti yang dijelaskan sebelumnya).)
Ada bukti yang sedikit sekali tentang kedua teori ini. Tetapi, ada beberapa masalah logika dan moral terhadap teori orang Kristen, yang mana teori Buddhis tidak punya masalah tersebut sehingga teori Buddhis lebih bisa diterima. Kristiani melihat keberadaan (existence) itu sebagai sesuatu yang memiliki awal tapi tidak memiliki akhir, sedangkan Buddhisme melihat keberadaan ini sebagai suatu siklus perputaran. Tidak ada satu contohpun di alam yang mempunyai awal tapi tidak mempunyai akhir.
Malahan, semua proses alam yang kita perhatikan mempunyai siklus perputaran. Musim-musim datang dan pergi dari tahun ke tahun. Hujan turun, air hujan mengalir ke laut, menguap, membentuk awan dan turun lagi menjadi hujan. Tubuh kita mencerna unsur-unsur dalam bentuk makanan; ketika kita meninggal, tubuh akan membusuk dan melepaskan unsur-unsur itu ke dalam tanah, yang kemudian diisap lagi oleh tanaman dan binatang yang kembali akan di makan. Planet-planet mengelilingi matahari, dan bahkan galaksi tempat tata surya kita berada juga berputar secara perlahan-lahan. Teori umat Buddha tentang kelahiran kembali sangatlah sejalan dengan proses siklus perputaran alam, sedangkan teori Kristiani tidak sejalan dengan proses siklus perputaran alam.
Orang-orang Kristen mengatakan bahwa Tuhan menciptakan kita dengan satu tujuan – supaya kita percaya kepadaNya dan terselamatkan. Kalau benar demikian, akan sangat sulit untuk menjelaskan mengapa tiap tahun jutaan janin tergugurkan, jutaan bayi dilahirkan mati atau meninggal dalam dua tahun pertama kehidupan mereka. Lebih jauh lagi, jutaan orang dilahirkan dan hidup dalam kehidupan dengan kerusakan mental yang parah, tidak bisa berpikir secara normal. Bagaimana semua yang dijelaskan di atas itu bisa masuk ke dalam rencana Tuhan?
Tujuan apa yang dimiliki Tuhan dalam menciptakan kehidupan dan membiarkan mereka mati bahkan sebelum dilahirkan atau hidup sementara?
Apa yang terjadi dengan orang-orang itu?
Apakah mereka pergi ke surga atau ke neraka?
Kalau Tuhan benar-benar menciptakan kita dengan rencana dibenakNya, rencana itu tentunya tidaklah jelas.
Dan juga kebanyakan dari penduduk dunia bukanlah orang Kristen, dan seperti yang kita ketahui bahkan tidak semua orang Kristen itu diselamatkan. Ini berarti jumlah ciptaan Tuhan yang akan dibuang masuk ke neraka akan jauh lebih banyak. Rencana Tuhan untuk menyelamatkan semua manusia ciptaannya telah berjalan dengan sangat tidak benar. Sehingga meskipun kita tidak bisa membuktikan kedua teori dari kedua agama, ajaran Buddhis ternyata lebih menarik dan masuk akal.
(Catatan dari penterjemah: Kebanyakan dari orang-orang Kristen bisa dengan lantang mengatakan bahwa HANYA dengan percaya, mereka bisa terselamatkan. Itu karena kebanyakan dari mereka hidup dan serba berkecukupan. Apa yang bisa dijelaskan orang Kristen tentang janin-janin yang gugur itu? Apa yang bisa dijelaskan orang Kristen tentang orang yang tidak bisa percaya karena mentalnya yang rusak dari lahir? Adilkah Tuhan? Orang belum bisa dan atau sempat percaya saja sudah dimatikan. Tentunya sangat tidak adil! Mungkin adil bagi orang Kristen yang hidup enak dan berkecukupan, karena mereka belum pernah merasakan ketidakadilan itu, atau sedikit dari mereka yang merasakan ketidakadilan itu. Karena mereka bukanlah janin-janin yang mati itu. Karena mereka bukanlah orang yang cacat mental. Meskipun KALAU Tuhan orang Kristen itu ada, tentunya Tuhan mereka tidaklah Maha segalanya seperti yang mereka teriakkan secara lantang!)
(Catatan dari penterjemah: Untuk mengingatkan kembali Kejadian 6:6-7, TUHAN Allah menyesal atas ciptaan-Nya. Ini membuktikan 2 hal: Pertama, Tuhan tidaklah sempurna karena tidak bisa menciptakan kesempurnaan. Kedua, Tuhan tidaklah sempurna karena bisa merasakan penyesalan.)
Kalau Benar Kita Dilahirkan Kembali, Bagaimana Kamu Menjelaskan Meningkatnya Jumlah Penduduk Dunia?
Ketika semua mahluk mati, tidaklah harus untuk terlahir lagi menjadi mahluk yang sama. Misalnya, seorang manusia bisa saja terlahir sebagai seekor binatang, atau mungkin terlahir sebagai mahluk dewa, tergantung karmanya sendiri. Kenyataan bahwa adanya peningkatan jumlah manusia di dunia mengartikan bahwa lebih banyak binatang mati yang terlahir menjadi manusia. (Telah terdapat hubungan yang erat dengan menurunnya jumlah binatang di dunia karena kepunahan dan sebab kematian lain seperti dikonsumsi manusia, dll) dan juga banyak manusia yang dilahrikan kembali menjadi manusia. Mengapa demikian? Mengapa banyak binatang yang terlahir menjadi manusia memang sulit untuk dijelaskan. (Catatan dari penterjemah: Tentunya dalam kehidupan sebelum menjadi binatang, mereka pernah berbuat karma yang sangat baik sehingga karma baik itu berbuah dan mereka terlahir menjadi manusia.)
Tetapi ada penjelasan mengapa semakin banyak manusia yang terlahir kembali menjadi manusia. Itu disebabkan oleh semakin menyebarnya pengetahuan akan ajaran-ajaran Sang Buddha. Bahkan di tempat di mana Dhamma tidaklah dikenal secara umum, kebaikan tetap saja ada dan diperbuat. Semua ini adalah penyebab meningkatnya jumlah penduduk dunia.
(Catatan dari penterjemah: Perlu diingat oleh para pembaca, meskipun Dhamma tidak dikenal, Dhamma itu juga terlaksana. Mengapa? Karena Dhamma hanyalah sebuat merek atau nama yang kita berikan kepada ajaran-ajaran Buddha. Dan ajaran-ajaran Sang Buddha itu adalah berintikan kebaikan yang universal.)
Nibbana adalah tujuan yang tidak bisa terlaksana karena membutuhkan waktu yang lama untuk mencapainya. Meskipun ada bisa mencapainya, jumlahnya sangatlah sedikit.
Memang benar dalam mencapai Nibbana diperlukan waktu yang sangat lama, tetapi di sisi yang lain, kelahiran kembali memberikan kita banyak peluang dan waktu untuk mencapai Nibbana.
Kalau seseorang tidak melakukannya di dalam kehidupan ini, dia bisa terus berusaha di kehidupan berikutnya. Sebenarnya, panjangnya waktu yang diperlukan itu adalah sepanjang yang diinginkan oleh orang itu. Sang Buddha berkata bahwa bila seseorang benar-benar ingin mencapai Nibbana, orang itu bisa mencapai Nibbana dalam waktu tujuh hari (Majjhima Nikaya, Sutta No.10). “The Buddha says that if one really wants, one can attain Nirvana within seven days” – Majjhima Nikaya Sutta No.10.
Kalau Benar Demikian, Orang Kristen Akan Menanyakan, Mengapa Tidak Semua Orang Buddha Mencapai Nibbana?
Dengan Sangat Mudah dijawab kejadian-kejadian duniawi (Catatan dari penterjemah: tali percintaan, kesedihan, kemarahan, kenikmatan akan indera seperti kenikamatan mata, sentuhan,perasaan – semuanya dari itu juga dialami oleh semua manusia) masih sangatlah menarik bagi banyak umat Buddha. Seiring dengan bertambahnya pengetahuan dan pengertian yang mendalam, ketertarikan itu akan secara bertahap berkurang dan hilang, sehingga langkah demi langkah, menurut cepatnya langkah masing-masing (Catatan dari penterjemah: jumlah karma baik dan karma buruk), menuju Nibbana.
Tentang pernyataan bahwa hanya sedikit yang bisa mencapai Nibbana, ini tidaklah benar. Sementara di dalam Kristiani, seorang hanya mempunyai satu kesempatan untuk diselamatkan, ajaran Sang Buddha menjelaskan bahwa dengan kelahiran kembali, seorang mempunyai kesempatan yang tak terbatas banyaknya untuk mencapai Nibbana. Ini juga mengartikan bahwa semuanya akan terbebaskan secara perlahan-lahan.
Seperti yang Kitab Buddhis katakan:
“Keadaan tidak mati ini telah dicapai oleh banyak, dan akan tetap bisa dicapai hari ini oleh siapapun juga yang berusaha. Tetapi tidak akan dicapai bagi mereka yang tidak berusaha.” (Therigatha, verse 513)
Dalam Kristiani, sejarah mempunyai arti penting, dan sejarah itu bergerak menuju satu tujuan. Sedangkan paham Buddhisme tentang siklus perputaran hidup mengartikan bahwa sejarah tidak ada artinya dan paham inilah yang membuat umat Buddhis dianggap pesimis dan tidak berbeda satu sama lainnya.
Memang benar bahwa menurut sejarah Buddhisme, sejarah tidaklah bergerak menuju suatu tujuan. Tetapi siapapun yang menjalankan Delapan Jalan Kebenaran tentunya akan menuju ke satu tujuan. Ia akan secara pasti bergerak menuju kedamaian dan kebebasan dalam Nibbana.
Seperti air sungai Gangga yang mengalir, meluncur, mengarah ke timur, demikian juga barang siapa yang melakukan dan berbuat banyak di dalam Delapan Jalan Kebenaran, mengalir, meluncur mengarah ke Nibbana. (Samyutta Nikaya, Great Chapter, Sutta No.67)
Jadi memang benar untuk mengatakan bahwa Buddhisme lebih nyata akan pandangannya tentang keberadaan, juga bahwa sejarah tidaklah menuju ke satu tujuan. Dan apa puncak sejarah yang dihadapi oleh orang Kristen? Kiamat, di mana manusia dalam jumlah yang banyak dan semua hasil karya manusia akan dihancurkan oleh hujan belerang dan api. Bahkan segelintir orang yang terselamatkan dari kiamat akan menghadapi keabadian yang suram di surga, menyadari bahwa setidaknya seorang dari anggota keluarga dan teman mereka, yang pada saat yang sama (abadi), dihukum di neraka. Akan sangatlah sulit untuk membayangkan masa depan yang lebih mengerikan daripada yang satu ini.
Sang Buddha menyontek ide karma dan kelahiran kembali dari agama Hindu Hindu memang mengajarkan tentang karma dan reinkarnasi (kelahiran kembali). Tetapi versi-versi mereka tentang kedua topik ajaran ini adalah sangat berbeda dari versi agama Buddha. Contohnya, ajaran Hindu mengatakan bahwa kita ditentukan oleh karma kita sedangkan agama Buddha menjelaskan bahwa karma hanyalah syarat bagi kita. Menurut ajaran Hindu, sebuah roh abadi (atman) berpindah dari satu kehidupan ke kehidupan yang lain sedangkan ajaran agama Buddha tidak mengakui adanya roh (anatman), melainkan aliran energi mental yang terus menerus berubah yang terlahirkan kembali. Contoh di atas hanyalah dua dari banyak perbedaan antara ajaran Hindu dan ajaran Buddha tentang karma dan kelahiran kembali.
Akan tetapi, meskipun jikalau ajaran agama Buddha dan Hindu itu sama, ini tidak berarti bahwa Buddha telah dengan sembarangan menyontek ide dari agama lain. Terkadang memang terjadi bahwa dua orang, yang saling terpisah dan tidak berhubungan, menemukan penemuan yang sama. Satu contoh yang baik adalah tentang ditemukannya teori evolusi manusia.
Di tahun 1858, persis sebelum Charles Darwin menerbitkan bukunya “The Origin of the Species”, secara kebetulan ada orang lain yang bernama Russell Wallace, juga telah menyusun ide evolusi yang persis sama dengan yang disusun oleh Charles Darwin. Darwin dan Wallace tidak saling menyontek; melainkan dengan mempelajari kenyataan alam yang ada, mereka menyusun kesimpulan yang sama secara sendiri-sendiri.
Maka, jika ide-ide Hindu tentang karma dan kelahiran kembali tampaknya sama persis dengan ide-ide Buddhis tentang karma dan kelahiran kembali (tetapi ide-ide kedua agama tentang topik tersebut berbeda), tetap saja tidak terbukti bahwa Sang Buddha menyontek. Kenyataannya adalah orang-orang suci Hindu mendapatkan ide-ide yang samar-samar tentang karma dan kelahiran kembali melalui pengetahuan yang mereka kembangkan lewat meditasi. Yang kemudian diajarkan oleh Sang Buddha (Catatan dari penterjemah: yang telah mencapai Penerangan Sempurna lewat meditasi) dengan lebih lengkap dan tepat.
Yesus Mengampuni Dosa-Dosa Kita, Tetapi Buddhisme Mengatakan Bahwa Kamu Tidak Akan Pernah Bisa Melarikan Diri Dari Akibat-Akibat Karmamu Sendiri
Tidaklah seluruhnya benar bahwa Yesus itu mengampuni dosa-dosa kita. Menurut ajaran Kristiani, setelah manusia diciptakan, mereka akan hidup selamanya – pertama, untuk beberapa puluh tahun di dunia dan kemudian hidup selamanya di surga atau neraka. Yesus akan mengampuni dosa-dosa orang ketika mereka hidup di dunia ini, tetapi menolak untuk mengampuni mereka yang telah dihukum di neraka, tidak peduli berapa kali mereka memohon dan bertobat. Sehingga pengampunan Yesus itu hanya terbatas dalam waktu hidup sementara di dunia, dan kemudian tidak mau memaafkan lagi kalau orang itu masuk neraka. Maka kebanyakan orang tidak akan pernah bisa melarikan diri dari akibat dosa mereka.
Dapatkah umat Buddhis melarikan diri dari karma mereka sendiri? Ajaran tentang karma mengajarkan bahwa setiap kelakuan (kamma) mempunyai akibat (vipaka). Tetapi akibatnya tidaklah selalu sama dengan penyebabnya. Contohnya, jika seorang mencuri sesuatu, kelakuan ini akan membawa akibat buruk. Tetapi jika setelah mencuri orang tersebut menyesal, mengembalikan barang yang dicuri, dan dengan tulus berjanji akan berusaha lebih berhati-hati di masa yang akan datang, akibat buruk itu akan tetap ada tetapi sudah tidak sekuat akibatnya kalau dia tidak menyesal.
Tetapi walaupun si pencuri itu tidak mengakui kesalahannya, tetapi melakukan kebaikan yang lain, dia akan terbebas dari kesalahan itu setelah karmanya berbuah. Jadi menurut ajaran agama Buddha, kita bisa terbebas dari karma kita dengan membayar karma tersebut, sedangkan menurut ajaran Kristiani, dosa-dosa kita hanya akan dimaafkan dalam jangka waktu yang begitu pendek.
(Catatan dari penterjemah: Satu contoh logika yang menggambarkan adilnya karma adalah contoh tentang sesendok garam. Jika sesendok garam dimasukkan ke dalam mulut, rasa asinya tentu saja sangat luar biasa. Tetapi jika sesendok garam itu dimasukkan ke dalam segelas air, rasa asin itu akan berkurang. Dan kalau sesendok garam itu dimasukkan ke dalam segentong air, garam itu tetap tidak akan berkurang dalam jumlah, tetapi karena jumlah airnya yang banyak rasa asin itu akan jauh berkurang. Demikianlah juga dengan karma kita. Kalau kita berbuat buruk dan tidak menyesali ataupun memperbaikinya, karma buruk itu akan berbuat setimpal seperti sesendok garam yang dimasukkan ke dalam mulut. Tetapi jika perbuatan buruk itu disesali dan kemudian banyak berbuat baik (menambah banyak air ke dalam gentong yang berisi sesendok garam), akibat yang berbuah juga akan menjadi ringan.)
Ada banyak segi yang mana ajaran Karma lebih baik daripada pendapat orang Kristen tentang pengampunan dosa dan penghukuman. Di dalam Buddhisme, ketika seseorang mungkin harus menerima akibat-akibat buruk dari karma jahatnya yang telah dia perbuat (yang tentu saja adil), ini juga berarti bahwa orang tersebut juga pasti menerima akibat-akibat baik dari karma baik yang pernah dibuatnya.
Tetapi tidak demikian halnya dengan ajaran Kristen. Contohnya, seorang yang bukan beragama Kristen yang jujur, penuh kesabaran, murah hati, dan baik hati, tetapi meskipun baik, setelah meninggal orang ini akan masuk ke neraka abadi dan tidak menerima imbalan atas segala kebaikannya yang pernah dia perbuat.
Lebih jauh lagi, menurut ajaran tentang karma, akibat-akibat yang kita terima dan rasakan, adalah dalam proporsi yang setimpal hasil dari sebabnya – kalau tidak ada faktor lain.
(Catatan dari penterjemah: Contoh sesendok garam itu adalah contoh yang baik untuk kita renungkan kembali. Kalau tidak ada faktor perbuatan baik yang kita kumpulkan (menuangkan air), rasa asin sesendok garam itu haruslah dirasakan sepenuhnya. Itulah yang diartikan di paragraf ini).
Tetapi tidak demikian halnya di dalam ajaran Kristen. Meskipun seseorang telah berbuat sangat banyak kejahatan dalam hidupnya, hukuman neraka abadi adalah hukuman yang tidak proporsional sama sekali. Bagaimana jauh lebih tidak proporsionalnya hukuman yang sama (neraka abadi) dijatuhkan kepada orang berbudi baik yang bukan Kristen?
Tentunya keabadian di neraka, dan pendapat yang dihujat oleh orang-orang yang bukan Kristen, berasal dari ajaran yang menampilkan keraguan yang serius terhadap Tuhan yang Maha Adil dan Maha Pengasih dan Penyayang. Kristiani telah menyebar luas ke hampir setiap negara di dunia dan mempunyai lebih banyak pengikut dari agama apapun di dunia, maka agama Kristen pastilah benar.
Memang benar agama Kristen telah menyebar luas, tetapi bagaimanakah penyebaran ini terjadi? Sampai ke abad 15, agama Kristen hanya terbatas di benua Eropa saja. Setelah abad 15, tentara-tentara Eropa menyebar ke seluruh dunia memaksakan agama mereka kepada orang-orang yang mereka jajah. Di kebanyakan negara yang dijajah (seperti Sri Lanka, Filipina, Taiwan dan beberapa bagian dari India) dibuat hukum-hukum untuk melarang semua agama selain agama Kristen. Sampai ke akhir abad ke-19, kekerasan yang keji tidak lagi dipakai untuk memaksakan agama Kristen, tetapi di bawah pengaruh penyebar-penyebar Injil, petugas-petugas negara penjajah mencoba menghalangi agama-agama non-Kristen sebanyak mungkin.
Hari ini, penyebaran agama Kristen didukung oleh bantuan keuangan yang berlimpah yang para penyebar Injil dapatkan kebanyakan dari Amerika Serikat. Maka agama Kristen tidaklah tersebar karena ajarannya yang dianggap paling mulia, melainkan karena faktor-faktor lain.
Tentang apakah agama Kristen adalah agama yang paling banyak penganutnya di dunia ini. Dapatkah kita memasukkan orang-orang Mormon, Kesaksian Yehova, Moonies sebagai orang Kristen? Bisakah kita memasukkan kumpulan-kumpulan dan sekte-sekte aneh yang berkembang di Amerika Selatan dan Afrika yang jumlahnya mencapai jutaan itu sebagai orang-orang Kristen?
Bahkan hampir semua orang Protestan tidak menganggap orang Katolik sebagai orang Kristen!
(Catatan dari penterjemah: Begitulah kenyataan yang ada. Orang Kristen yang sering menghina Katolik dan tidak menganggap orang Katolik sebagai orang Kristen. Tetapi kalau orang-orang Kristen sedang berusaha untuk mengajak orang berpindah agama, banyak dari mereka akan menganggap orang Katolik sebagai orang Kristen untuk membanggakan banyaknya pengikut Kristiani.)
Kalau kita tidak mengakui semua aliran-aliran aneh dan sesat agama Kristen sebagai ‘Kristen Sejati’, maka ini mungkin akan membuat agama Kristen sebagai salah satu agama terkecil di dunia. Ini juga tentunya menjelaskan mengapa Alkitab mengatakan bahwa hanya 144.000 (Seratus empat puluh empat ribu) orang yang akan diselamatkan pada Hari Pengadilan Terakhir. (Wahyu 14:3-4).
Tetapi walaupun jikalau agama Kristen adalah agama yang paling banyak penganutnya di dunia, apalah artinya? Dua ratus tahun yang lalu kebanyakan manusia percaya bahwa bumi ini datar. Sejak itu mereka telah terbukti salah. Ketepatan dan kebenaran suatu kepercayaan tidaklah berhubungan dengan jumlah orang yang menerima kepercayaan tersebut.
Buddhisme boleh saja menjadi filosofi yang luhur, tetapi kalau kau melihat negara-negara Buddhis, kamu akan melihat kelihatannya sangat sedikit orang yang mengamalkan ajarannya.
Mungkin! Tetapi bukankah demikian halnya dengan negara-negara Kristen?
Orang Kristen jujur yang mana yang berani mengatakan bahwa SEMUA orang Kristen secara penuh dan tulus menjalankan sepenuhnya ajaran Yesus?
Marilah kita tidak mengadili sebuah agama atas dasar mereka yang tidak menjalankan ajaran agama itu.
Bagaimana Kita Menjawab Pertanyaan Para Penyebar Injil
Sebagai bagian dari usaha mereka untuk mempromosikan iman mereka, para penyebar Injil seringkali menanyakan pertanyaan kepada umat Buddha, yang bertujuan untuk membingungkan atau melemahkan umat Buddha. Kita akan melihat kepada beberapa pertanyaan dan komentar-komentar mereka, dan memberikan jawaban-jawaban Buddhis.
(Catatan dari penterjemah: Seringkali tujuan orang-orang Kristen untuk membingungkan dan melemahkan umat Buddha berhasil, karena: 1. Orang Buddhis yang mereka pertanyakan bukanlah orang Buddhis yang sering ke Vihara, atau yang banyak belajar tentang Dhamma. 2. Pertanyaan-pertanyaan yang mereka tanyakan telah mereka persiapkan berikut jawaban dari mereka sendiri yang semua dari pertanyaan itu adalah berdasarkan KONSEP PIKIRAN DAN MENTAL orang-orang Kristen. Sehingga mereka bisa memberikan jawaban, komentar yang bersifat Kristen pula. Itulah yang membuat orang Kristen KELIHATAN mempunyai jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang membingungkan umat Buddha itu. Pernah sekali saya diajak berdiskusi, seorang penyebar Injil Kristen yang taat ke kebaktian agamanya dan pintar akan Alkitab mengatakan bahwa Sang Buddha bagi orang Buddha setingkat dengan Yesus dalam Agama Kristen, dan Maria perawan suci oleh orang Kristen, setingkat dan sama halnya dengan Dewi Kwan Im. Ini adalah pertanyaan yang bodoh dan menggelikan. Pertanyaan-pertanyaan seperti itulah yang menyesatkan dan membingungkan. Dengan dalih, Buddha tidak bisa menyelamatkan manusia, tetapi Yesus bisa.)
Kamu Tidak Percaya Kepada Tuhan, Sehingga Kamu Tidak Bisa Menjelaskan Asal Mula Dunia Ini.
Memang benar Kristen mempunyai penjelasan tentang bagaimana semuanya bermula. Tetapi apakah penjelasan itu benar? Marilah kita teliti. Alkitab mengatakan bahwa Tuhan menciptakan segalanya dalam enam hari dan pada hari ketujuh, Ia beristirahat. Cerita yang aneh ini tidaklah lebih dari sekedar sebuah dongeng, dan tidak lebih benar daripada dongeng Hindu yang mengatakan para dewa menciptakan semuanya dengan mengocok susu yang sebanyak air di laut, atau kepercayaan kuno bahwa alam semesta ini ditetaskan dari sebutir telur kosmos.
Beberapa bagian dari dongeng penciptaan ini adalah tidak masuk akal. Contohnya, dikatakan pada hari pertama Tuhan menciptakan terang dan gelap tetapi pada hari keempat Dia menciptakan matahari (Kejadian 1:15-16).
Bagaimana bisa ada siang dan malam tanpa matahari?
Dongeng penciptaan ini juga bertentangan dengan ilmu pengetahuan moderen yang telah membuktikan tentang awal alam semesta, dan bagaimana kehidupan berkembang. Tidak ada bagian di ilmu perbintangan atau biologi di perguruan tinggi manapun di dunia ini yang mengajarkan dongeng penciptaan dengan alasan sederhana, bahwa dongeng tersebut tidak berdasarkan kenyataan.
Maka, memang benar Kristen mempunyai penjelasan tentang awal mula sesuatu (seperti halnya kebanyakan agama juga punya penjelasan sendiri), tetapi penjelasan itu hanyalah dongeng belaka.
Lalu apa yang Buddhisme katakan tentang awal mula segala sesuatu?
Buddhisme mengatakan hal yang sedikit sekali tentang hal ini dan dengan alasan yang sangat masuk akal. Tujuan dari Buddhisme adalah untuk mengembangkan kebijaksanaan dan belas kasihan sehingga bisa mencapai Nibbana. Mengetahui asal mula dunia tidak membantu kita mengembangkan cinta kasih dan kebijaksanaan untuk mencapai Nibbana.
Pernah sekali seorang meminta Sang Buddha untuk memberitahu dia bagaimana alam semesta ini bermula. Sang Buddha mengatakan kepadanya “Kamu seperti orang yang baru saja di panah dengan anak panah beracun, dan ketika dokter datang untuk mencabut anak panah tersebut, kamu mengatakan ‘Tunggu! Sebelum anak panah ini dicabut saya mau tau nama orang yang memanah anak panah ini, dari suku/keluarga mana dia berasal, dari kampung mana dia dilahirkan. Saya ingin mengetahui dari jenis kayu apa busurnya terbuat, bulu apa yang digunakan di ujung anak panah ini, seberapa panjang anak panah ini, dan lain-lain, dan lain-lain.’ Orang itu akan mati sebelum semua pertanyaan itu bisa terjawab. Tugas saya adalah untuk membantu kamu untuk mencabut anak panah penderitaan dari dirimu sendiri.” (Majjhima Nikaya Sutta No.63)
Buddhisme mengkonsentrasikan kepada membantu kita semua memecahkan masalah-masalah hidup – sehingga tidak mendukung tebakan-tebakan yang tidak berguna. Dan jika seorang umat Buddhis ingin mengetahui bagaimana dan awal mula alam semesta, ia akan menanyakan pertanyaan ini kepada seorang ilmuwan.
Agama Buddha Tidak Bisa Diterapkan Karena Dikatakan Kamu Tidak Bisa Membunuh Seekor Semut Sekalipun
Sebelum kita membela ajaran Sang Buddha terhadap vonis tentang ajaran yang tidak bisa diterapkan, marilah kita melihat apakah ajaran Kristen bisa diterapkan. Menurut Yesus, jika seseorang menampar kita di salah satu pipi kita, kita hendaknya memberikan pipi yang lain untuk ditampar juga. (Matius 5:25).
Kalau kita menemukan seseorang telah mencuri celana kita, kita harus pergi keluar dan memberikan maling itu pakaian kita juga (Matius 5:30).
Jika kita tidak bisa menahan diri dari mencuri, kita harus memotong tangan kita sendiri (Matius 5:30).
Kita bisa mengatakan semua ajaran yang tercantum di ayat-ayat di atas tidak bisa diterapkan, meskipun orang Kristen akan lebih suka menyebutnya sebagai tantangan daripada tidak bisa diterapkan.
Dan tentunya mereka benar. Untuk bisa memberikan pipi yang lain utuk ditampar sekali lagi tidaklah mudah. Hal ini memerlukan kita untuk mengendalikan amarah kita dan dengan melakukan hal ini bisa menolong untuk mengembangan kesabaran, kerendahan hati, tidak membalas, dan cinta kasih. Kalau kita tidak tertantang kita tidak akan maju.
Sang Buddha meminta kita untuk menghormati semua mahluk, bahkan mahluk-mahluk yang rendah. Mengenai memberikan pipi yang lain, ini tidaklah selalu mudah. Seperti bagi banyak orang, mahluk-mahluk seperti semut bisa sangat mengganggu dan tidak menyenangkan. Ketika kita bertekad untuk tidak membunuh dan berusaha untuk menjalankan tekad itu, kita tertantang untuk menimbulkan kesabaran, kerendahan hati, cinta kasih dan sebagainya. Jadi dengan meminta kita menghormati semua jenis kehidupan, ajaran Buddhis dan ajaran Kristen sama saja sulit untuk diterapkan.
Sang Buddha Telah Mati, Maka Dia Tidak Bisa Menolong Dirimu
Umat Buddhis terkadang mengalami kesulitan untuk menjawab secara benar ketika orang Kristen mengatakan hal ini. Akan tetapi kalau kita mengetahui Dhamma dengan baik, akan dengan sangat mudah kita bisa menyangkal pernyataan seperti itu. Karena pernyataan seperti itu dan juga pernyataan-pernyataan yang sering orang Kristen ucapkan tentang agama Buddha adalah berdasarkan kesalahpahaman.
Pertama-tama, Sang Buddha tidaklah mati. Beliau telah mencapai Nibbana, sebuah keadaan yang bebas dan damai sama sekali. Nama lain yang diberikan Sang Buddha kepada Nibbana adalah Keadaan Yang Tidak Mati (Amita) karena setelah seorang mencapai Nibbana, orang itu tidak akan terlahir lagi, dengan tidak terlahir, maka ia juga tidak mati. Tentu saja Nibbana bukanlah “kehidupan abadi” yang naif seperti yang digambarkan di Alkitab, di mana badan dibangkitkan dan malaikat bernyanyi. Kenyataannya, Nibbana itu sangat halus sehingga tidak mudah untuk dijelaskan. Akan tetapi Nibbana bukanlah ketidakadaan, seperti yang telah Sang Buddha jelaskan. (Majjhima Nikaya Sutta No72; Sutta Nipata, Verse 1076)
Dan juga sama tidak benarnya untuk mengatakan bahwa Buddha tidak bisa menolong kita. Selama empat puluh tahun, Sang Buddha menjelaskan dengan sangat mendetil dan dengan kejelasan yang mengagumkan, semua yang kita perlukan untuk mencapai Nibbana. Semua yang kita perlukan untuk lakukan adalah untuk mengikuti petunjuk-petunjuk beliau. Kata-kata Beliau sangatlah membantu dan berlaku di jaman sekarnag, seperti halnya sangatlah membantu dan berlaku di saat pertama kali diajarkan 2500 tahun yang lalu. Tentu saja Buddha tidak membantu kita dengan cara yang diambil Yesus menurut orang Kristen.
Dan Buddha tidak membantu demikian dengan alasan yang sangat baik. Jika seorang murid tau bahwa sewaktu ujian dia bisa menanyakan jawaban atas pertanyaan ujian kepada gurunya, dia tidak akan belajar, sehingga dia tidak akan pernah bisa tau dan berusaha sendiri. Jika seorang olahragawan tahu bahwa hanya dengan meminta juri untuk memberi dia kemenangan, dia tidak akan peduli untuk melatih tubuh dan memajukan prestasinya. Sekedar memberi apa yang orang minta tidaklah menolong mereka dengan benar. Bahkan kenyataannya, hal itu hanya akan memastikan bahwa orang yang meminta itu akan tetap lemah, penuh ketergantungan dan malas.
Sang Buddha memberi petunjuk menuju Nibbana dan mengajarkan kita bekal-bekal apa yang kita perlukan untuk perjalanan menuju Nibbana. Seiring dengan perjalanan itu, kita akan belajar dari pengalaman-pengalaman kita dan dari kesalahan-kesalahan kita, meningkatkan kekuatan, kedewasaan dan kebijaksanaan. Hasilnya ketika kita selesai menempuh perjalanan ini, kita akan menjadi orang-orang yang berbeda sama sekali dibandingkan dengan kita sewaktu memulai perjalanan. Berkat bantuan Sang Buddha yang cermat kita akan mencapai Kesunyataan.
Maka untuk mengatakan bahwa Sang Buddha telah mati dan tidak bisa menolong kita tidak hanya salah, tetapi juga secara tidak langsung mengatakan bahwa Yesus itu hidup dan bisa menolong dirimu. Marilah kita lihat kepada pendapat ini. Orang-orang Kristen menyatakan bahwa Yesus itu hidup, tetapi bukti apa yang ada tentang hal ini? Mereka akan mengatakan bahwa Alkitab membuktikan Yesus bangkita di antara orang-orang mati. Sungguh sial, pernyataan-pernyataan yang ditulis oleh beberapa orang beberapa ribu tahun yang lalu tidaklah membuktikan apa-apa.
Sebuah pernyataan di Mahabharata (salah satu Kitab Suci orang Hindu) mengatakan bahwa seorang suci mempunyai kendaraan yang bisa terbang. Tetapi apakah ini membuktikan bahwa orang India kuno menemukan pesawat terbang? Tentu saja tidak.
Tulisan-tulisan kuno Mesir mengatakan bahwa Dewa Khnum menciptakan segalanya dari tanah yang dia bentuk dari roda pembuat kendi.
Apakah ini membuktikan bahwa semua yang ada itu adalah tanah? Tentu saja tidak.
Sebuah ayat di dalam Perjanjian Lama mengatakan seorang bernama Balaam mempunyai keledai yang bisa berbicara.
Apakah ayat itu membuktikan bahwa semua binatang bisa berbicara? Tentu saja tidak.
Kita tidak bisa secara tidak menanyakan secara kritis, menerima klaim yang dibuat oleh Alkitab ataupun kitab suci lain bulat-bulat. Ketika kita meneliti klaim-klaim tentang kebangkitan Yesus, kita telah menemukan alasan yang sangat baik untuk tidak percaya kepada klaim-klaim tersebut.
Bahkan, Alkitab sendiri membuktikan bahwa Yesus tidaklah hidup. Sebelum Yesus disalibkan, Yesus memberitahu murid-muridnya bahwa dia akan kembali sebelum yang terakhir dari mereka mati. (Matius 10:23, 16:28, Lukas 21:32). Hal itu diucapkan 2000 tahun yang lalu. Yesus masih belum kembali. Mengapa? Tentunya karena dia sudah mati.
Pendapat kedua bahwa Yesus selalu menjawab ketika kamu berdoa kepadanya. Sangatlah mudah untuk membuktikan bahwa ini tidak benar. Orang-orang Kristen meninggal karena penyakit, ketidakberuntungan, mempunyai masalah-masalah emosi, menyerah ke dalam godaan, dll seperti halnya orang yang tidak beragama Kristen.
Padahal orang Kristen memohon pertolongan dari Yesus lewat doa-doa mereka. Saya mempunyai seorang teman yang Kristen yang beriman untuk selama bertahun-tahun. Secara bertahap dia mulai ragu dan meminta bantuan dari pendeta. Sang pendeta memberi petunjuk kepadanya untuk berdoa, dan bahkan meminta anggota gereja untuk berdoa bagi teman ini.
Akan tetapi, meskipun semua doa ke Yesus untuk kekuatan dan petunjuk, keraguan teman saya ini semakin bertambah, dan akhirnya meninggalkan gereja. Kemudian dia menjadi umat Buddha. Jika Yesus benar-benar hidup dan siap membantu, mengapa orang-orang Kristen mempunyai problem yang sama banyaknya dengan orang-orang non-Kristen?
Mengapa Yesus tidak menjawab doa-doa teman saya dan membantunya untuk tetap menjadi orang Kristen? Tentunya karena Yesus telah mati dan tidak bisa membantu.
Dalam menjawab sangkalan ini, orang-orang Kristen akan mengatakan bahwa ada orang-orang yang bisa bersaksi bahwa doa-doa mereka telah dijawab (terkabulkan).
Kalau benar demikian, orang-orang yang beriman kepada Islam, Hindu, Seikh, Tao, Shinto, Kuan Im juga bisa memberikan kesaksian yang sama.
Tidak Seperti Kristiani, Buddhisme Menganut Paham Yang Pesimis
Menurut kamus Webster, pesimisme adalah “kepercayaan bahwa kejahatan di dalam hidup ini melebihi kebaikan” – “the belief that evil in life outweighs the good”. Adalah hal yang menarik bahwa orang-orang Kristen menuduh umat-umat Buddha pesimis karena justru pendapat bahwa kejahatan melebihi kebaikan adalah ajaran pusat agama Kristen, bukan ajaran pokok Buddha.
Dua ayat Alkitab yang orang Kristen fanatik yang paling suka kutip adalah “Seperti ada tertulis: Tidak ada yang benar, seorangpun tidak.”(Roma 3:10) dan “Sesungguhnya, di bumi tidak ada orang yang saleh: yang berbuat baik dan tidak pernah berbuat jahat.” (Pengkhotbah 7:20).
Ajaran tentang Dosa Asal mengajarkan bahwa semua manusia adalah pembuat dosa, tidak bisa melepaskan dirinya sendiri dari dosa, dan kejahatan di dalam diri kita lebih kuat daripada kebaikan (Roma 7:14-24).
Orang-orang Kristen akan mengatakan memang benar demikian, kita bisa terbebas dari dosa jika kita menerima Yesus. Mungkin kita bisa terbebas kalau menerima Yesus, tetapi kenyataan mengatakan bahwa orang-orang Kristen membutuhkan Yesus karena pandangan orang Kristen tentang watak dasar manusia yang pesimis sama sekali.
Ajaran Sang Buddha, di sisi yang lain, mempunyai pandangan sangat berbeda dan lebih nyata tentang watak dasar manusia. Sementara menyadari bahwa manusia bisa berbuat jahat, Buddhisme mengajarkan kita untuk menaklukkan kejahatan dan melakukan kebaikan melalui usaha kita sendiri.
(Catatan dari penterjemah: Pesimis juga sering diartikan orang tidak mau berusaha karena tau bahwa apapun yang diusahakan akan gagal. Apakah ajaran Sang Buddha pesimis? Justru Sang Buddha mendukung kita berusaha karena kita bisa melepaskan diri dari penderitaan, karena ajaran Sang Buddha yang diusahakan dan dijalankan akan berhasil. Karena penderitaan itu BISA ditaklukkan, itu adalah pandangan yang SANGAT OPTIMIS. Jadi pendapat orang Kristen bahwa ajaran Sang Buddha pesimis adalah omong kosong yang bodoh.)
“Abaikan yang salah. Pengabaian itu bisa dilakukan. Kalau pengabaian ini mustahil, Saya tidak akan mendukung kamu untuk melakukannya. Tetapi berhubung hal ini bisa dilaksanakan, Saya katakan kepadamu: “Abaikan yang salah”. Kalau mengabaikan yang salah membawa kerugian dan kesedihan, Saya tidak akan mendukung kamu untuk melakukannya. Tetapi berhubung hal ini menghasilkan manfaat dan kebahagiaan, Saya dukung kamu: “Abaikan yang salah”. Tanamkanlah kebaikan. Menanam kebaikan bisa dilakukan. Kalau hal ini tidak bisa dilakukan, Saya tidak akan mendukung kam untuk melakukannya. Tetapi berhubung hal ini bisa dilakukan, Saya katakan kepadamu:”Tanamkanlah kebaikan.” Kalau menanam kebaikan membawa kerugian dan kesedihan, Saya tidak akan mendukung kamu untuk melakukannya. Tetapi berhubung menanam kebaikan menghasilkan maanfaat dan kebahagiaan, Saya dukung kamu:” Tanamkanlah kebaikan.” “(Anguttara Nikaya, Book of Twos, Sutta No.9)
Entah seorang setuju atau tidak terhadap ajaran Sang Buddha, tentunya orang itu tidak akan mengatakan ajaran Sang Buddha itu pesimistis.
Yesus Mengajarkan Kita Untuk Mengasihi Tetapi Buddhisme Mengajarkan Kita Untuk Menjadi Dingin Dan Tak Berperasaan
Ini tidaklah benar. Sang Buddha berkata kita hendaknya mengembangkan cinta kasih yang hangat dan penuh perhatian kepada semua manusia (Catatan dari penterjemah: Dan semua makhluk)
Seperti ibu yang bersedia melindungi anak satu-satunya meskipun dengan mempertaruhkan nyawanya sendiri, demikian juga seseorang hendaknya menghasilkan cinta kasih tak bersyarat kepada semua mahluk. (Sutta Nipata Verse 150)
Dalam semua segi, cinta kasih itu sama pentingnya dan ditekankan bagi ajaran agama Buddha dan Kristiani. Akan tetapi ada sesuatu yang merusak praktek cinta kasih orang-orang Kristen. Desakan mereka yang keras suaranya mengatakan bahwa hanya merekalah yang mempunyai cinta kasih, dan kualitas dari cinta kasih mereka jauh lebih unggul daripada cinta kasih lain, dan penghinaan juga ejekan mereka yang terus menerus kepada usaha orang lain untuk melaksanakan cinta kasih membuat mereka terlihat berbeda sama sekali dari yang lain. Begitu picik dan cemburunya beberapa orang Kristen sampai mereka tidak bisa memuji atau menghargai kualitas cinta kasih yang sama indahnya, kecuali ada tulisan “Buatan Yesus” tertempel di atasnya.
Kamu Mengklaim Bahwa Setelah Meninggal, Kita Akan Dilahirkan Kembali, Tetapi Tidak Ada Bukti Nyata Adanya Kelahiran Kembali.
(Catatan dari penterjemah: Kelahiran kembali atau reinkarnasi adalah salah satu topik yang cukup luas dan perlu diterangkan secara terperinci. Untuk itu, para pembaca disarankan untuk mencari buku-buku Buddhis secara umum, yang mana terdapat satu bab khusus tentang “kelahiran kembali” atau “reinkarnasi” atau “tumimbal lahir”. Buku-bukut tersebut tersedia secara gratis kalau Anda pergi ke Vihara ataupun ke perpustakaan umum. Alasan mengapa muncul pernyataan seperti yang tertera di atas, karena sekali lagi orang Kristen telah menggunakan logika, mental, dan pengetahuan Kristiani mereka dalam mempertanyakan sesuatu. Satu hal yang pasti: Alam sesudah kematian yang berakibatkan tumimbal lahir telah mempunyai dasar kuat untuk dijadikan bukti. Surga orang Kristen di lain pihak, sampai sekarang belum terbukti ada.)
Sebelum kita memberi jawaban, marilah kita membandingkan teori-teori sesudah kematian dari agama Kristen dan Buddha. Menurut Kristiani, Tuhan menciptakan sebuah jiwa (roh) baru yang menjadi manusia yang hidup lalu mati. Setelah kematian, jiwa itu (roh) itu akan pergi ke surga abadi kalau percaya kepada Yesus, atau ke neraka abadi kalau ia tidak percaya kepada Yesus. Menurut Buddhisme, adalah tidak mungkin untuk megira-ngira awal mutlak atas keberadaan sesuatu. Setiap mahluk hidup, mati dan dilahirkan kembali ke dalam keberadaan baru. Proses mati dan dilahirkan kembali ini adalah suatu proses yang alamai dan dapat berlangsung selamanya kecuali ia mencapai Nibbana. Ketika satu mahluk mencapai Nibbana, pengertian mereka dan secara pasti juga kelakuan mereka berubah. Kelakuan yang berubah inilah yang juga merubah proses yang menyebabkan kelahiran kembali.
Jadi bukan dilahirkan kembali, melainkan menjadi keberadaan baru yang mencapai Nibbana. Nibbana bukanlah keberadaan (untuk menjadi ada (dalam arti mahluk) berarti mempunyai reaksi terhadap indera, untuk tumbuh, membusuk, untuk berpindah dalam waktu dan ruang, untuk dilahirkan kembali menjadi mahluk baru, dll). Nibbana juga bukanlah ketidakberadaan, dalam arti Nibbana bukanlah penghancuran. Dalam kata lain, keberadaan suatu mahluk itu tidak ada awalnya dan tidak ada akhirnya kecuali Nibbana dicapai. Mencapai Nibbana adalah satu-satunya alasan untuk hidup.
(Catatan dari penterjemah: Para pembaca mungkin kurang bisa menyerap arti yang tertulis di atas. Yang dimaksudkan adalah: Nibbana bukanlah kekosongan atau kehancuran dari yang hidup, tetapi bukan juga keberadaan atau tempat kehidupan (dalam arti hidup, karena untuk hidup berarti untuk mempunyai unsur Lima Kandha seperti yang dijelaskan sebelumnya).)
Ada bukti yang sedikit sekali tentang kedua teori ini. Tetapi, ada beberapa masalah logika dan moral terhadap teori orang Kristen, yang mana teori Buddhis tidak punya masalah tersebut sehingga teori Buddhis lebih bisa diterima. Kristiani melihat keberadaan (existence) itu sebagai sesuatu yang memiliki awal tapi tidak memiliki akhir, sedangkan Buddhisme melihat keberadaan ini sebagai suatu siklus perputaran. Tidak ada satu contohpun di alam yang mempunyai awal tapi tidak mempunyai akhir.
Malahan, semua proses alam yang kita perhatikan mempunyai siklus perputaran. Musim-musim datang dan pergi dari tahun ke tahun. Hujan turun, air hujan mengalir ke laut, menguap, membentuk awan dan turun lagi menjadi hujan. Tubuh kita mencerna unsur-unsur dalam bentuk makanan; ketika kita meninggal, tubuh akan membusuk dan melepaskan unsur-unsur itu ke dalam tanah, yang kemudian diisap lagi oleh tanaman dan binatang yang kembali akan di makan. Planet-planet mengelilingi matahari, dan bahkan galaksi tempat tata surya kita berada juga berputar secara perlahan-lahan. Teori umat Buddha tentang kelahiran kembali sangatlah sejalan dengan proses siklus perputaran alam, sedangkan teori Kristiani tidak sejalan dengan proses siklus perputaran alam.
Orang-orang Kristen mengatakan bahwa Tuhan menciptakan kita dengan satu tujuan – supaya kita percaya kepadaNya dan terselamatkan. Kalau benar demikian, akan sangat sulit untuk menjelaskan mengapa tiap tahun jutaan janin tergugurkan, jutaan bayi dilahirkan mati atau meninggal dalam dua tahun pertama kehidupan mereka. Lebih jauh lagi, jutaan orang dilahirkan dan hidup dalam kehidupan dengan kerusakan mental yang parah, tidak bisa berpikir secara normal. Bagaimana semua yang dijelaskan di atas itu bisa masuk ke dalam rencana Tuhan?
Tujuan apa yang dimiliki Tuhan dalam menciptakan kehidupan dan membiarkan mereka mati bahkan sebelum dilahirkan atau hidup sementara?
Apa yang terjadi dengan orang-orang itu?
Apakah mereka pergi ke surga atau ke neraka?
Kalau Tuhan benar-benar menciptakan kita dengan rencana dibenakNya, rencana itu tentunya tidaklah jelas.
Dan juga kebanyakan dari penduduk dunia bukanlah orang Kristen, dan seperti yang kita ketahui bahkan tidak semua orang Kristen itu diselamatkan. Ini berarti jumlah ciptaan Tuhan yang akan dibuang masuk ke neraka akan jauh lebih banyak. Rencana Tuhan untuk menyelamatkan semua manusia ciptaannya telah berjalan dengan sangat tidak benar. Sehingga meskipun kita tidak bisa membuktikan kedua teori dari kedua agama, ajaran Buddhis ternyata lebih menarik dan masuk akal.
(Catatan dari penterjemah: Kebanyakan dari orang-orang Kristen bisa dengan lantang mengatakan bahwa HANYA dengan percaya, mereka bisa terselamatkan. Itu karena kebanyakan dari mereka hidup dan serba berkecukupan. Apa yang bisa dijelaskan orang Kristen tentang janin-janin yang gugur itu? Apa yang bisa dijelaskan orang Kristen tentang orang yang tidak bisa percaya karena mentalnya yang rusak dari lahir? Adilkah Tuhan? Orang belum bisa dan atau sempat percaya saja sudah dimatikan. Tentunya sangat tidak adil! Mungkin adil bagi orang Kristen yang hidup enak dan berkecukupan, karena mereka belum pernah merasakan ketidakadilan itu, atau sedikit dari mereka yang merasakan ketidakadilan itu. Karena mereka bukanlah janin-janin yang mati itu. Karena mereka bukanlah orang yang cacat mental. Meskipun KALAU Tuhan orang Kristen itu ada, tentunya Tuhan mereka tidaklah Maha segalanya seperti yang mereka teriakkan secara lantang!)
(Catatan dari penterjemah: Untuk mengingatkan kembali Kejadian 6:6-7, TUHAN Allah menyesal atas ciptaan-Nya. Ini membuktikan 2 hal: Pertama, Tuhan tidaklah sempurna karena tidak bisa menciptakan kesempurnaan. Kedua, Tuhan tidaklah sempurna karena bisa merasakan penyesalan.)
Kalau Benar Kita Dilahirkan Kembali, Bagaimana Kamu Menjelaskan Meningkatnya Jumlah Penduduk Dunia?
Ketika semua mahluk mati, tidaklah harus untuk terlahir lagi menjadi mahluk yang sama. Misalnya, seorang manusia bisa saja terlahir sebagai seekor binatang, atau mungkin terlahir sebagai mahluk dewa, tergantung karmanya sendiri. Kenyataan bahwa adanya peningkatan jumlah manusia di dunia mengartikan bahwa lebih banyak binatang mati yang terlahir menjadi manusia. (Telah terdapat hubungan yang erat dengan menurunnya jumlah binatang di dunia karena kepunahan dan sebab kematian lain seperti dikonsumsi manusia, dll) dan juga banyak manusia yang dilahrikan kembali menjadi manusia. Mengapa demikian? Mengapa banyak binatang yang terlahir menjadi manusia memang sulit untuk dijelaskan. (Catatan dari penterjemah: Tentunya dalam kehidupan sebelum menjadi binatang, mereka pernah berbuat karma yang sangat baik sehingga karma baik itu berbuah dan mereka terlahir menjadi manusia.)
Tetapi ada penjelasan mengapa semakin banyak manusia yang terlahir kembali menjadi manusia. Itu disebabkan oleh semakin menyebarnya pengetahuan akan ajaran-ajaran Sang Buddha. Bahkan di tempat di mana Dhamma tidaklah dikenal secara umum, kebaikan tetap saja ada dan diperbuat. Semua ini adalah penyebab meningkatnya jumlah penduduk dunia.
(Catatan dari penterjemah: Perlu diingat oleh para pembaca, meskipun Dhamma tidak dikenal, Dhamma itu juga terlaksana. Mengapa? Karena Dhamma hanyalah sebuat merek atau nama yang kita berikan kepada ajaran-ajaran Buddha. Dan ajaran-ajaran Sang Buddha itu adalah berintikan kebaikan yang universal.)
Nibbana adalah tujuan yang tidak bisa terlaksana karena membutuhkan waktu yang lama untuk mencapainya. Meskipun ada bisa mencapainya, jumlahnya sangatlah sedikit.
Memang benar dalam mencapai Nibbana diperlukan waktu yang sangat lama, tetapi di sisi yang lain, kelahiran kembali memberikan kita banyak peluang dan waktu untuk mencapai Nibbana.
Kalau seseorang tidak melakukannya di dalam kehidupan ini, dia bisa terus berusaha di kehidupan berikutnya. Sebenarnya, panjangnya waktu yang diperlukan itu adalah sepanjang yang diinginkan oleh orang itu. Sang Buddha berkata bahwa bila seseorang benar-benar ingin mencapai Nibbana, orang itu bisa mencapai Nibbana dalam waktu tujuh hari (Majjhima Nikaya, Sutta No.10). “The Buddha says that if one really wants, one can attain Nirvana within seven days” – Majjhima Nikaya Sutta No.10.
Kalau Benar Demikian, Orang Kristen Akan Menanyakan, Mengapa Tidak Semua Orang Buddha Mencapai Nibbana?
Dengan Sangat Mudah dijawab kejadian-kejadian duniawi (Catatan dari penterjemah: tali percintaan, kesedihan, kemarahan, kenikmatan akan indera seperti kenikamatan mata, sentuhan,perasaan – semuanya dari itu juga dialami oleh semua manusia) masih sangatlah menarik bagi banyak umat Buddha. Seiring dengan bertambahnya pengetahuan dan pengertian yang mendalam, ketertarikan itu akan secara bertahap berkurang dan hilang, sehingga langkah demi langkah, menurut cepatnya langkah masing-masing (Catatan dari penterjemah: jumlah karma baik dan karma buruk), menuju Nibbana.
Tentang pernyataan bahwa hanya sedikit yang bisa mencapai Nibbana, ini tidaklah benar. Sementara di dalam Kristiani, seorang hanya mempunyai satu kesempatan untuk diselamatkan, ajaran Sang Buddha menjelaskan bahwa dengan kelahiran kembali, seorang mempunyai kesempatan yang tak terbatas banyaknya untuk mencapai Nibbana. Ini juga mengartikan bahwa semuanya akan terbebaskan secara perlahan-lahan.
Seperti yang Kitab Buddhis katakan:
“Keadaan tidak mati ini telah dicapai oleh banyak, dan akan tetap bisa dicapai hari ini oleh siapapun juga yang berusaha. Tetapi tidak akan dicapai bagi mereka yang tidak berusaha.” (Therigatha, verse 513)
Dalam Kristiani, sejarah mempunyai arti penting, dan sejarah itu bergerak menuju satu tujuan. Sedangkan paham Buddhisme tentang siklus perputaran hidup mengartikan bahwa sejarah tidak ada artinya dan paham inilah yang membuat umat Buddhis dianggap pesimis dan tidak berbeda satu sama lainnya.
Memang benar bahwa menurut sejarah Buddhisme, sejarah tidaklah bergerak menuju suatu tujuan. Tetapi siapapun yang menjalankan Delapan Jalan Kebenaran tentunya akan menuju ke satu tujuan. Ia akan secara pasti bergerak menuju kedamaian dan kebebasan dalam Nibbana.
Seperti air sungai Gangga yang mengalir, meluncur, mengarah ke timur, demikian juga barang siapa yang melakukan dan berbuat banyak di dalam Delapan Jalan Kebenaran, mengalir, meluncur mengarah ke Nibbana. (Samyutta Nikaya, Great Chapter, Sutta No.67)
Jadi memang benar untuk mengatakan bahwa Buddhisme lebih nyata akan pandangannya tentang keberadaan, juga bahwa sejarah tidaklah menuju ke satu tujuan. Dan apa puncak sejarah yang dihadapi oleh orang Kristen? Kiamat, di mana manusia dalam jumlah yang banyak dan semua hasil karya manusia akan dihancurkan oleh hujan belerang dan api. Bahkan segelintir orang yang terselamatkan dari kiamat akan menghadapi keabadian yang suram di surga, menyadari bahwa setidaknya seorang dari anggota keluarga dan teman mereka, yang pada saat yang sama (abadi), dihukum di neraka. Akan sangatlah sulit untuk membayangkan masa depan yang lebih mengerikan daripada yang satu ini.
Sang Buddha menyontek ide karma dan kelahiran kembali dari agama Hindu Hindu memang mengajarkan tentang karma dan reinkarnasi (kelahiran kembali). Tetapi versi-versi mereka tentang kedua topik ajaran ini adalah sangat berbeda dari versi agama Buddha. Contohnya, ajaran Hindu mengatakan bahwa kita ditentukan oleh karma kita sedangkan agama Buddha menjelaskan bahwa karma hanyalah syarat bagi kita. Menurut ajaran Hindu, sebuah roh abadi (atman) berpindah dari satu kehidupan ke kehidupan yang lain sedangkan ajaran agama Buddha tidak mengakui adanya roh (anatman), melainkan aliran energi mental yang terus menerus berubah yang terlahirkan kembali. Contoh di atas hanyalah dua dari banyak perbedaan antara ajaran Hindu dan ajaran Buddha tentang karma dan kelahiran kembali.
Akan tetapi, meskipun jikalau ajaran agama Buddha dan Hindu itu sama, ini tidak berarti bahwa Buddha telah dengan sembarangan menyontek ide dari agama lain. Terkadang memang terjadi bahwa dua orang, yang saling terpisah dan tidak berhubungan, menemukan penemuan yang sama. Satu contoh yang baik adalah tentang ditemukannya teori evolusi manusia.
Di tahun 1858, persis sebelum Charles Darwin menerbitkan bukunya “The Origin of the Species”, secara kebetulan ada orang lain yang bernama Russell Wallace, juga telah menyusun ide evolusi yang persis sama dengan yang disusun oleh Charles Darwin. Darwin dan Wallace tidak saling menyontek; melainkan dengan mempelajari kenyataan alam yang ada, mereka menyusun kesimpulan yang sama secara sendiri-sendiri.
Maka, jika ide-ide Hindu tentang karma dan kelahiran kembali tampaknya sama persis dengan ide-ide Buddhis tentang karma dan kelahiran kembali (tetapi ide-ide kedua agama tentang topik tersebut berbeda), tetap saja tidak terbukti bahwa Sang Buddha menyontek. Kenyataannya adalah orang-orang suci Hindu mendapatkan ide-ide yang samar-samar tentang karma dan kelahiran kembali melalui pengetahuan yang mereka kembangkan lewat meditasi. Yang kemudian diajarkan oleh Sang Buddha (Catatan dari penterjemah: yang telah mencapai Penerangan Sempurna lewat meditasi) dengan lebih lengkap dan tepat.
Yesus Mengampuni Dosa-Dosa Kita, Tetapi Buddhisme Mengatakan Bahwa Kamu Tidak Akan Pernah Bisa Melarikan Diri Dari Akibat-Akibat Karmamu Sendiri
Tidaklah seluruhnya benar bahwa Yesus itu mengampuni dosa-dosa kita. Menurut ajaran Kristiani, setelah manusia diciptakan, mereka akan hidup selamanya – pertama, untuk beberapa puluh tahun di dunia dan kemudian hidup selamanya di surga atau neraka. Yesus akan mengampuni dosa-dosa orang ketika mereka hidup di dunia ini, tetapi menolak untuk mengampuni mereka yang telah dihukum di neraka, tidak peduli berapa kali mereka memohon dan bertobat. Sehingga pengampunan Yesus itu hanya terbatas dalam waktu hidup sementara di dunia, dan kemudian tidak mau memaafkan lagi kalau orang itu masuk neraka. Maka kebanyakan orang tidak akan pernah bisa melarikan diri dari akibat dosa mereka.
Dapatkah umat Buddhis melarikan diri dari karma mereka sendiri? Ajaran tentang karma mengajarkan bahwa setiap kelakuan (kamma) mempunyai akibat (vipaka). Tetapi akibatnya tidaklah selalu sama dengan penyebabnya. Contohnya, jika seorang mencuri sesuatu, kelakuan ini akan membawa akibat buruk. Tetapi jika setelah mencuri orang tersebut menyesal, mengembalikan barang yang dicuri, dan dengan tulus berjanji akan berusaha lebih berhati-hati di masa yang akan datang, akibat buruk itu akan tetap ada tetapi sudah tidak sekuat akibatnya kalau dia tidak menyesal.
Tetapi walaupun si pencuri itu tidak mengakui kesalahannya, tetapi melakukan kebaikan yang lain, dia akan terbebas dari kesalahan itu setelah karmanya berbuah. Jadi menurut ajaran agama Buddha, kita bisa terbebas dari karma kita dengan membayar karma tersebut, sedangkan menurut ajaran Kristiani, dosa-dosa kita hanya akan dimaafkan dalam jangka waktu yang begitu pendek.
(Catatan dari penterjemah: Satu contoh logika yang menggambarkan adilnya karma adalah contoh tentang sesendok garam. Jika sesendok garam dimasukkan ke dalam mulut, rasa asinya tentu saja sangat luar biasa. Tetapi jika sesendok garam itu dimasukkan ke dalam segelas air, rasa asin itu akan berkurang. Dan kalau sesendok garam itu dimasukkan ke dalam segentong air, garam itu tetap tidak akan berkurang dalam jumlah, tetapi karena jumlah airnya yang banyak rasa asin itu akan jauh berkurang. Demikianlah juga dengan karma kita. Kalau kita berbuat buruk dan tidak menyesali ataupun memperbaikinya, karma buruk itu akan berbuat setimpal seperti sesendok garam yang dimasukkan ke dalam mulut. Tetapi jika perbuatan buruk itu disesali dan kemudian banyak berbuat baik (menambah banyak air ke dalam gentong yang berisi sesendok garam), akibat yang berbuah juga akan menjadi ringan.)
Ada banyak segi yang mana ajaran Karma lebih baik daripada pendapat orang Kristen tentang pengampunan dosa dan penghukuman. Di dalam Buddhisme, ketika seseorang mungkin harus menerima akibat-akibat buruk dari karma jahatnya yang telah dia perbuat (yang tentu saja adil), ini juga berarti bahwa orang tersebut juga pasti menerima akibat-akibat baik dari karma baik yang pernah dibuatnya.
Tetapi tidak demikian halnya dengan ajaran Kristen. Contohnya, seorang yang bukan beragama Kristen yang jujur, penuh kesabaran, murah hati, dan baik hati, tetapi meskipun baik, setelah meninggal orang ini akan masuk ke neraka abadi dan tidak menerima imbalan atas segala kebaikannya yang pernah dia perbuat.
Lebih jauh lagi, menurut ajaran tentang karma, akibat-akibat yang kita terima dan rasakan, adalah dalam proporsi yang setimpal hasil dari sebabnya – kalau tidak ada faktor lain.
(Catatan dari penterjemah: Contoh sesendok garam itu adalah contoh yang baik untuk kita renungkan kembali. Kalau tidak ada faktor perbuatan baik yang kita kumpulkan (menuangkan air), rasa asin sesendok garam itu haruslah dirasakan sepenuhnya. Itulah yang diartikan di paragraf ini).
Tetapi tidak demikian halnya di dalam ajaran Kristen. Meskipun seseorang telah berbuat sangat banyak kejahatan dalam hidupnya, hukuman neraka abadi adalah hukuman yang tidak proporsional sama sekali. Bagaimana jauh lebih tidak proporsionalnya hukuman yang sama (neraka abadi) dijatuhkan kepada orang berbudi baik yang bukan Kristen?
Tentunya keabadian di neraka, dan pendapat yang dihujat oleh orang-orang yang bukan Kristen, berasal dari ajaran yang menampilkan keraguan yang serius terhadap Tuhan yang Maha Adil dan Maha Pengasih dan Penyayang. Kristiani telah menyebar luas ke hampir setiap negara di dunia dan mempunyai lebih banyak pengikut dari agama apapun di dunia, maka agama Kristen pastilah benar.
Memang benar agama Kristen telah menyebar luas, tetapi bagaimanakah penyebaran ini terjadi? Sampai ke abad 15, agama Kristen hanya terbatas di benua Eropa saja. Setelah abad 15, tentara-tentara Eropa menyebar ke seluruh dunia memaksakan agama mereka kepada orang-orang yang mereka jajah. Di kebanyakan negara yang dijajah (seperti Sri Lanka, Filipina, Taiwan dan beberapa bagian dari India) dibuat hukum-hukum untuk melarang semua agama selain agama Kristen. Sampai ke akhir abad ke-19, kekerasan yang keji tidak lagi dipakai untuk memaksakan agama Kristen, tetapi di bawah pengaruh penyebar-penyebar Injil, petugas-petugas negara penjajah mencoba menghalangi agama-agama non-Kristen sebanyak mungkin.
Hari ini, penyebaran agama Kristen didukung oleh bantuan keuangan yang berlimpah yang para penyebar Injil dapatkan kebanyakan dari Amerika Serikat. Maka agama Kristen tidaklah tersebar karena ajarannya yang dianggap paling mulia, melainkan karena faktor-faktor lain.
Tentang apakah agama Kristen adalah agama yang paling banyak penganutnya di dunia ini. Dapatkah kita memasukkan orang-orang Mormon, Kesaksian Yehova, Moonies sebagai orang Kristen? Bisakah kita memasukkan kumpulan-kumpulan dan sekte-sekte aneh yang berkembang di Amerika Selatan dan Afrika yang jumlahnya mencapai jutaan itu sebagai orang-orang Kristen?
Bahkan hampir semua orang Protestan tidak menganggap orang Katolik sebagai orang Kristen!
(Catatan dari penterjemah: Begitulah kenyataan yang ada. Orang Kristen yang sering menghina Katolik dan tidak menganggap orang Katolik sebagai orang Kristen. Tetapi kalau orang-orang Kristen sedang berusaha untuk mengajak orang berpindah agama, banyak dari mereka akan menganggap orang Katolik sebagai orang Kristen untuk membanggakan banyaknya pengikut Kristiani.)
Kalau kita tidak mengakui semua aliran-aliran aneh dan sesat agama Kristen sebagai ‘Kristen Sejati’, maka ini mungkin akan membuat agama Kristen sebagai salah satu agama terkecil di dunia. Ini juga tentunya menjelaskan mengapa Alkitab mengatakan bahwa hanya 144.000 (Seratus empat puluh empat ribu) orang yang akan diselamatkan pada Hari Pengadilan Terakhir. (Wahyu 14:3-4).
Tetapi walaupun jikalau agama Kristen adalah agama yang paling banyak penganutnya di dunia, apalah artinya? Dua ratus tahun yang lalu kebanyakan manusia percaya bahwa bumi ini datar. Sejak itu mereka telah terbukti salah. Ketepatan dan kebenaran suatu kepercayaan tidaklah berhubungan dengan jumlah orang yang menerima kepercayaan tersebut.
Buddhisme boleh saja menjadi filosofi yang luhur, tetapi kalau kau melihat negara-negara Buddhis, kamu akan melihat kelihatannya sangat sedikit orang yang mengamalkan ajarannya.
Mungkin! Tetapi bukankah demikian halnya dengan negara-negara Kristen?
Orang Kristen jujur yang mana yang berani mengatakan bahwa SEMUA orang Kristen secara penuh dan tulus menjalankan sepenuhnya ajaran Yesus?
Marilah kita tidak mengadili sebuah agama atas dasar mereka yang tidak menjalankan ajaran agama itu.
BEYOND BELIEF ( BAGIAN 7 )
Bab VII
Ajaran Sang Buddha – Alternatif Yang Masuk Akal
“Kalau kamu tidak mempunyai guru yang bisa menjelaskan ajarannya dengan memuaskan, maka ambillah Dhamma yang pasti ini dan amalkanlah. Dengan kepastian Dhamma, dan dengan pengamalan yang benar, adalah untuk kesejahteraan dan kebahagiaanmu untuk waktu yang lama”. Sang Buddha
Agama Kristiani didasarkan kepada beberapa kejadian sejarah yang dianggap terjadi (perawan yang melahirkan anak, kebangkitan dari mati, dan lain-lain), satu-satunya catatan terhadapnya adalah Alkitab yang dianggap benar pula. Jika kejadian-kejadian tersebut bisa dibuktikan tidak pernah terjadi, dan jika dokumen-dokumen yang merekam kejadian tersebut bisa terbukti untuk tidak bisa dipercaya, maka Agama Kristiani akan jatuh. Di dalam buku ini, telah kita lihat bahwa klaim-klaim yang dibuat, dalam segi terbaiknya sangatlah meragukan, dan dalam segi terburuknya adalah telah terbukti salah.
Ketika kita mengamati ajaran-ajaran Sang Buddha, kita menemukan suatu keadaan yang berbeda secara keseluruhan. Bahkan kalaupun kita bisa membuktikan bahwa Buddha itu tidak pernah ada ataupun adanya kesalahan-kesalahan dalam tulisan-tulisan Buddhis, kesalahan tersebut tidaklah meruntuhkan ajaran Sang Buddha. Mengapa?
Karena ajaran Sang Buddha tidaklah sekedar sejarah Sang Buddha ataupun kejadian-kejadian yang terjadi di masa lalu; melainkan Buddhisme itu adalah mengenai penderitaan manusia, penyebab-penyebab penderitaan, dan bagaimana penderitaan itu dapat di atasi sehingga manusia bisa menjadi terbebas, bahagia dan memancarkan kebebasan dan kebahagiaan itu. Kalau kita ingin tahu atau membuktikan kebenaran atau mengerti ajaran Buddhisme, kita tidak mengutip ataupun mencarinya di dalam tulisan-tulisan kuno dan saling bertengkar tentang arti dari kata-kata atau potongan kalimat; melainkan kita menghubungkan ajaran tersebut dengan pengalaman kita sendiri. Marilah kita teliti keempat prinsip yang menjadi pokok ajaran Sang Buddha.
( I ) Setelah Kita Mati Kita Dilahirkan Kembali
Orang-orang Kristen percaya bahwa ketika orang meninggal mereka hanya mempunyai salah satu dari dua takdir terakhir – surga atau neraka. Mereka percaya bahwa kedua takdir tersebut sifatnya abadi dan orang pergi ke salah satu takdir itu menurut pengadilan Allah Bapa.
Buddhisme mengajarkan bahwa ketika orang meninggal, mereka bisa mempunyai berbagai macam tujuan (surga, neraka, sebagai manusia kembali, sebagai binatang, dan sebagainya). Buddhisme mengajarkan bahwa tidak satupun dari tujuan itu bersifat abadi. Dengan selesainya kehidupan di salah satu alam, berlanjutlah kehidupan itu ke alam yang lain (atau alam yang sama). Buddhisme juga mengajarkan bahwa tujuan dari seseorang itu disyaratkan oleh karma dari orang itu (persisnya: jumlah dari semua kebaikan dan kesalahan yang orang tersebut lakukan semasa hidupnya).
Ini berarti bahwa semua orang baik, tanpa peduli apapun agamanya, akan mendapatkan nasib yang baik. Ini juga berarti bahwa meskipun ada yang melakukan kesalahan ataupun kejahatan akan mempunyai kesempatan untuk menjadi baik lagi di kehidupan selanjutnya.
Orang-orang Kristen mentertawakan pendapat tentang kelahiran kembali dan mengatakan tidak ada bukti yang kuat terhadap kelahiran kembali. Tetapi pendapat tentang kelahiran kembali ini tidaklah begitu berbeda dengan pendapat orang Kristen tentang kehidupan sesudah kematian – kalau setelah orang meninggal bisa menjadi malaikat di surga, mengapa mereka tidak bisa menjadi manusia di bumi?
Dan dalam hal pembuktian, secara jelas tidak ada bukti tentang teori kehidupan sesudah kematian yang dianut oleh orang Kristen. Sedangkan ada beberapa pembuktian bahwa orang bisa dilahirkan kembali (bacalah Twenty Cases Suggestive of Reincarnation, University Press of Virginia, Charlotteville USA, 1975). (Catatan dari penterjemah: Saya secara kebetulan juga mengetahui dan telah membaca sebuah buku tentang reinkarnasi (kelahiran kembali) yang berjudul “Reincarnation: The Boy Lama”.
Saya juga pernah mendengar bahwa buku tersebut pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia di akhir 1980 atau di awal 1990 yang judulnya lebih kurang sama dengan judul aslinya dalam bahasa Inggris. Sebagai petunjuk, bocah yang menjadi lama di Tibet ini bernama Osel yang dilahirkan dari keluarga Mexico atau keturunan Spanyol.)
( II ) Hidup Adalah Penderitaan
Prinsip berikutnya yang menjadi dasar Buddhisme adalah pendapat bahwa hidup ini adalah penderitaan. Meskipun orang-orang Kristen menuduh orang-orang Buddhis sebagai orang yang pesimis setelah mengucapkan pendapat tersebut, ketidakpuasan yang diwarisi oleh hidup ini sebenarnya dibenarkan oleh Alkitab: “Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.” (Yohanes 16:33) (Ayub 5:7; Pengkhotbah 1:8; Yesaya 24:4).
Tetapi sementara kedua agama setuju dengan ide penderitaan ini, kedua agama tidak setuju terhadap mengapa penderitaan itu ada.
(Catatan dari penterjemah: Orang-orang Kristen yang mempunyai pemikiran yang kritis akan menanyakan, “Mengapa kalian menyalahkan isi Alkitab, lalu setelah menyalahkan malah sekarang memakai isi Alkitab untuk melindungi diri kalian sendiri?” Pemakaian ayat-ayat Alkitab di atas bukanlah berarti setelah kita menyalahkan Alkitab, lalu memakainya kembali untuk melindungi diri kita sendiri. Perlu diketahui bahwa pemakaian isi Alkitab di dalam buku ini adalah untuk menunjukkan adanya kesalahan dan ketidaksempurnaan Alkitab, menyangkal Alkitab itu firman dari Allah, bukan wahyu Allah ataupun ilham ataupun kesaksian yang bisa dipercaya. Tidak pernah sekalipun di dalam buku ini sang pengarang dan kita mengatakan bahwa isi Alkitab salah semua. Secara terbuka sang pengarang memuji beberapa ajaran Kristen yang mulia (yang banyak dari ajaran itu tercantum di Alkitab), yang telah membuat beliau menjadi umat Buddha yang lebih taat.)
Orang-orang Kristen bergantung kepada mitos yang menjelaskan asal mula kejahatan dan penderitaan sebagai akibat dari Adam dan Hawa yang telah memakan apel (Catatan dari penterjemah: buah terlarang, buah pengetahuan).
Buddhisme melihat penderitaan itu sebagai kejadian psikologi yang mempunyai sebab psikologis – kemauan, ketergantungan, dan nafsu. Dan pengalaman kita sendiri menjelaskan bahwa memang benar begitu. Ketika kita menginginkan sesuatu dan tidak bisa mendapatkannya, kita akan merasa kecewa, dan semakin kuat keinginan itu, semakin kuat juga kekecewaan itu.
Bahkan kalaupun kita bisa mendapatkan apa yang kita inginkan, kita akan menjadi bosan dan mulai untuk menginginkan hal yang lain. Bahkan penderitaan badan disebabkan oleh ketergantungan, karena ketergantungan yang kuat untuk hidup membuat kita dilahirkan kembali dan ketika kita dilahirkan kembali kita bisa menderita sakit, kecelakaan, menjadi tua, terpisah dari orang-orang yang kita kasihi, dan lain-lain.
Buddhisme mengajarkan bahkan kebahagiaan di surga tidaklah abadi dan tidaklah sempurna, kenyataan yang disetujui oleh Alkitab.
Alkitab memberitahu kita bahwa Setan dulunya adalah salah satu malaikat di surga, tetapi dia memberontak melawan Tuhan (yang berarti: Setan tidak puas) dan dibuang dari surga (yang berarti: keberadaan di surga tidaklah abadi). Kalau pernah berada di surga sekali dan bisa terjatuh dari kehidupan di surga, ini membuktikan bahwa surga tidaklah sempurna dan tidaklah abadi, yang mana orang Kristen mengklaim sebaliknya. (Bacalah: Yesaya 14:12-15, 2 Petrus 2:4, Yudea 6, Wahyu 12:9)
( III ) Penderitaan Bisa Diatasi
Prinsip ketiga yang menjadi dasar Buddhisme adalah pendapat bahwa adalah mungkin untuk terbebas dari penderitaan. Ketika ketergantungan dan keinginan berhenti, kehidupan seseorang menjadi lebih sederhana dan bahagia, dan setelah meninggal, ia tidak akan terlahir kembali. Keadaan yang terbebas sepenuhnya dari penderitaan di sebut Nibbana dan digambarkan oleh Sang Buddha sebagai “Kebahagiaan Tertinggi” (Dhammapada 203).
“Rasa lapar adalah penyakit yang paling berat, Lima Kandha (yang terdiri dari jasmani, perasaan, pencerapan, bentuk-bentuk mental, dan kesadaran manusia sesungguhnya hanyalah komposisi dari lima kelompok kehidupan ini) adalah keburukan yang paling parah; (dengan) menyadari kenyataan ini, orang bijaksana mencapai Nibbana, Kebahagiaan Tertinggi.” – Dhammapada 203.
(Catatan dari penterjemah: Pengertiannya adalah manusia adalah terdiri dari lima kelompok kehidupan yang disebut di atas – Lima Kandha. Unsur-unsur itulah yang harus kita hilangkan supaya terlepas dari roda kehidupan (penderitaan). Itulah sebabnya dikatakan Lima Kandha adalah keburukan yang paling parah karena bisa lapar (memunculkan keinginan, ketergantungan, dan nafsu – penderitaan). Dengan hilangnya Lima Kandha, kita bisa terbebas dari keburukan yang paling parah penyebab kehidupan kembali (penderitaan), dan mencapai Nibbana.)
Orang Kristen sering salah mengartikan, bahwa Nibanna adalah kehampaan yang kosong dan menuduh ajaran Buddha itu penuh dengan kehampaan. Kesalahpahaman ini muncul karena ketidakmampuan mereka untuk memahami kehidupan sesudah kematian yang lebih halus daripada surga yang mereka percaya yang “ada di atas sana” (Psalms 14:2, 53:2) dengan pintu-pintu dan jendela-jendela (Kejadian 28:17, Wahyu 4:1, 2 Raja-Raja 7:2, Malaekhi 3:10), tempat Allah Bapa duduk di singgasana (Wahyu 4:2) dikelilingi oleh orang-orang Kristen berbusana indah dengan mahkota tiara (bercabang tiga) bermain trompet (Wahu 4:4).
Sang Buddha secara pasti mengatakan bahwa Nibbana itu tidaklah hampa.
Ketika seseorang telah membebaskan pikiran, para dewa tidak bisa melacaknya, meskipun mereka berpikir: “Ini adalah kesadaran yang melekat kepada Sang Kesunyataan (Buddha).” Dan mengapa? Karena Sang Kesunyataan tidaklah dapat dilacak. Meskipun saya mengatakan hal ini, ada beberapa pertapa dan guru-guru agama yang telah menyajikan (ajaran) Saya dengan salah, yang secara tidak sesuai kenyataan, berkata: “Sang Bhikkhu Gautama (Buddha) adalah seorang yang penuh kehampaan karena Dia mengajarkan pembuangan, penghancuran, dan kehilangan dari sebuah kesatuan yang ada.” Tetapi ini tentulah tidak Saya ucapkan. Baik sekarang dan di masa lalu, Saya hanya mengajarkan penderitaan dan cara-cara mengatasi penderitaan. (Majjhima Nikaya, Sutta No.22)
Tetapi Beliau juga mengatakan bahwa Nibbana bukanlah “kehidupan abadi” yang mentah dan sederhana. Nibbana tidaklah seperti yang dilukiskan oleh Kristiani. Nibbana adalah suatu keadaan yang sama sekali murni dan bahagia yang tidak ada satupun bahasa umum yang bisa jelaskan secara tepat.
Orang-orang Kristen kadang mengatakan bahwa Buddhisme bertentangan dengan dirinya sendiri karena dalam keinginan untuk mencapai*) Nibbana, seseorang telah memperkuat keinginan (Catatan dari penterjemah: salah satu dari hasil Lima Kandha – yang lainnya adalah ketergantungan, dan nafsu) yang dapat mencegah orang itu untuk mencapainya. Pendapat ini dibawakan pada saat Buddha masih hidup, dan dijawab oleh salah seorang murid utama Beliau, Ananda. (Catatan dari penterjemah: *) – kata “mencapai” tidaklah mengartikan bahwa Nibbana adalah suatu tempat. Kata-kata seperti “jalan menuju Nibbana” sering dipakai untuk menggambarkan ajaran Sang Buddha yang telah ditemukan oleh Sang Buddha, dan diajarkan kepada – juga bisa dicapai oleh, para murid-murid Dhamma.
Catatan ini ada untuk menghindari adanya kesalahpahaman bahwa ajaran Sang Buddha berisi banyak pertentangan. Perlu kiranya ditekankan sekali lagi bahwa Nibbana tidak dapat dijelaskan melalui kata-kata umum. Penggunaan kata “mencapai” “tujuan” “jalan menuju” “kebahagiaan tertinggi” hanyalah untuk penjelasan yang seiring dengan konsep Nibbana yang disampaikan oleh Sang Buddha.)
Seorang imam menanyakan Yang Mulia Ananda: “Apa tujuan dari kehidupan suci di bawah bhikkhu Gautama?” – “Tujuannya adalah untuk melepaskan nafsu.” –
“Adakah caranya, latihan yang mana bisa melepaskan nafsu?” – “Ada caranya, yaitu dengan usaha kekuatan batin dari keinginan, energi, pikiran dan perenungan yang bersama-sama dengan konsentrasi (pemusatan pikiran) dan usaha.” – “Kalau begitu adanya, Yang Mulia Annanda, lalu ini sama saja dengan usaha yang tiada akhirnya. Karena untuk melepaskan satu nafsu untuk dengan menggunakan nafsu yang lain adalah tidak mungkin.” – “Lalu saya akan bertanya kepadamu sebuah pertanyaan; jawablah sesukamu.
Sebelumnya, apakah kamu mempunyai nafsu (keinginan), energi, pikiran dan perenungan untuk datang ke taman ini?
Dan setelah tiba, hilangkah keinginan, energi, pikiran dan renungan yang kau bawa itu?” – “Ya, semuanya itu hilang.” – “Kalau begitu, seseorang yang telah menghancurkan kekotoran batin, setelah dia mencapai penerangan sempurna, keinginan itu, energi itu, pikiran itu, renungan yang dia miliki untuk mencapai penerangan sempurna sekarang telah sirna.” (Samyutta Nikaya, Book Seven, Sutta No.15)
(IV) Ada Cara Untuk Mengatasi Penderitaan
Prinsip terakhir yang menjadi dasar ajaran agama Buddha mengajarkan kita bagaimana caranya untuk menghilangkan ketergantungan, yang kemudian terbebas dari penderitaan di dalam hidup ini dan di masa yang akan datang. Ketiga prinsip pertama adalah bagaimana cara pandang orang Buddhis terhadap dunia dan kesulitan manusia, sedangkan prinsip terakhir ini adalah tentang apa yang umat Buddhis putuskan untuk mengatasi kesulitan tersebut. Dan jawaban Buddhis terhadap penderitaan adalah untuk menjalankan Delapan Jalan Mulia (Kebenaran).
Sistem yang sangat bisa diterapkan dan berlaku secara universal ini terdiri dari pengembangan Pengertian Benar, Pikiran Benar, Perkataan Benar, Perbuatan Benar, Penghidupan Benar, Usaha Benar, Kesadaran Benar, Konsentrasi Benar. Kita akan melihat secara singkat masing-masing dari jalan tersebut.
Pengertian (Pandangan) Benar
Kalau kita bertahan untuk percaya bahwa kejahatan (dosa) dan penderitaan adalah disebabkan oleh sesuatu yang Adam dan Hawa lakukan, atau bahwa kejahatan (dosa) dan penderitaan disebabkan oleh iblis, kita tidak akan pernah bisa mengatasinya.
Ketika kita mengerti bahwa kitalah yang menyebabkan penderitaan kita sendiri melalui kebodohan dan ketergantungan (kemelekatan), kita telah mengambil langkah pertama untuk mengatasi penderitaan itu. Mengetahui penyebab utama dari sebuah masalah adalah awal dari usaha mengatasi masalah itu.
Dan adalah tidak cukup untuk hanya percaya – kita harus berusaha untuk mengerti. Pengertian benar memerlukan penggunaan otak, penelitian yang hati-hati, pembuktian dari kenyataan-kenyataan yang ada, keterbukaan. Dalam usaha untuk mendapatkan wawasan dan pengetahuan, kualitas-kualitas tadi akan terasah dan diperkuat.
Pikiran, Ucapan dan Perbuatan Benar
Ketiga tahap dari Delapan Jalan Kebenaran menjadi batang tubuh dari ajaran etika (moral) Buddhis. Orang-orang Kristen sering mencoba untuk memberikan kesan bahwa hanya moral merekalah yang berputar disekitar kelembutan, cinta kasih dan pengampunan.
Tetapi, kenyataannya 500 tahun sebelum Yesus, Buddha mengajarkan etika yang berpusatkan cinta kasih dengan lebih baik dan lebih lengkap daripada ajaran Kristiani. Untuk melatih Pikiran Benar, kita hendaknya mengisi pikiran-pikiran kita dengan pikiran-pikiran cinta kasih dan belas kasihan.
Kembangkan pikiran yang penuh cinta kasih, belas kasihan, dikendalikan oleh kebajikan, timbulkan energimu, jadilah orang yang tegas dan selalu teguh di dalam membuat kemajuan. (Theragata 979)
“Ketika dengan satu pikiran yang penuh dengan kasih sayang, seseorang akan merasakan belas kasihan kepada seluruh dunia – yang di atas, dibawah dan disekeliling, tak terbatas ke seluruh penjuru, dipenuhi dengan kebaikan hati yang tak terbatas, lengkap dan terlatih dengan benar; dan semua perbuatan-perbuatan terbatas yang seorang telah lakukan tidak akan tetap hidup di dalam pikiran itu.” (Jataka 37,38)
Sama halnya dengan air yang menyejukkan kebaikan dan keburukan dan membersihkan semua kotoran dan debu, dengan cara yang sama kamu hendaknya mengembangkan pikiran-pikiran cinta kasih kepada teman dan lawan, dan dengan mencapai kesempurnaan dalam cinta kasih, kamu akan mencapai Penerangan Sempurna (Jataka Nidanakatha 168-169)
Dalam melatih Ucapan Benar, kita hendaknya menggunakan kata-kata yang kita gunakan untuk mendukung kejujuran, kelembutan hati dan kedamaian. Sang Buddha menggambarkan Ucapan Benar seperti berikut ini.
“Kalau kata-kata mempunyai lima ciri khas, ciri khas tersebut adalah: pengucapan yang benar, bukan pengucapan yang sembarangan, tidak disalahkan maupun dikutuk oleh orang-orang bijaksana, kata-kata itu diucapkan pada saat yang tepat, penuh kebenaran, lembut, langsung (tepat pada sasaran), dan digerakkan oleh cinta kasih”. (Anguttara Nikaya, Books of Fives, Sutta 198)
Dengan keindahan dan kejelasan yang merupakan ciri khas dari Sang Buddha, Beliau menjelaskan seorang yang berusaha mengembangkan Ucapan Benar sebagai berikut.
“Tidak berbohong, seorang menjadi pembicara tentang kebenaran, bisa diandalkan, patut dipercaya, bukanlah penipu dunia ini. Tidak memfitnah, seorang tidak mengulang di tempat lain terhadap apa yang didengar di tempat ini, atau mengulang di tempat ini terhadap apa yang didengar di tempat lain, yang tujuannya untuk memecah-belah orang.
Sehingga, orang itu menjadi pemersatu dari yang terpecahkan, penggabung dari apa yang sudah bersatu, memberi kebahagiaan di dalam kedamaian, memberikan kesenangan di dalam kedamaian, mendukung perdamaian; perdamaian adalah penggerak ucapan-ucapannya.
Berhenti berkata kasar, seorang mengatakan apa yang tidak disalahkan, enak di dengar telinga, bisa disetujui, menyentuh hati, berbudi bahasa santun, menyenangkan dan disukai oleh semua khayalak.
Berhenti mengucapkan hal-hal yang tidak berguna, seorang berbicara pada saat yang benar, mengenai kenyataan, tepat pada sasaran, tentang Dhamma dan ketekunan, kata-kata yang pantas untuk dihargai, sesuai dengan musimnya, penuh pertimbangan, diterangkan dengan jelas, dan berhubungan dengan tujuan.” (Digha Nikaya, Sutta No.1)
Perbuatan benar memerlukan kita untuk menghindari pembunuhan, pencurian dan perbuatan seksual yang senonoh, dan memerlukan kita untuk melatih kelembutan, kemurahan hati, kendali diri, dan memberikan pertolongan kepada yang lain.
Penghidupan Benar
“Untuk melatih Penghidupan Benar, seorang akan bekerja di pekerjaan yang penuh moral, dan yang menghasilkan sesuatu yang tidak merugikan masyarakat ataupun lingkungan. Seorang tuan akan membayar pekerja-pekerjanya dengan adil, memperlakukan mereka dengan penuh hormat, dan memastikan keadaan kerja yang aman. Seorang pekerja di sisi yang lain akan bekerja secara jujur dan rajin.” (Digha Nikaya, Sutta No.31). Seorang juga hendaknya menggunakan penghasilannya dengan bertanggungjawab – memenuhi kebutuhannya, menghematkannya, dan membagikan sebagian untuk amal.
Usaha Benar
Kepercayaan Kristen tentang Tuhan dan manusia membuat usaha manusia tidak bertalian/berhubungan. Manusia pada dasarnya adalah berakhlak buruk dan orang berdosa yang jahat. “orang miskin didorongnya dari jalan, orang sengsara di dalam negeri terpaksa bersembunyi semuanya.” (Ayub 24:4)
“Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya?” (Yeremia 17:9)
Tak lebih dari sekedar ulat (Ayub 25:6) manusia tidaklah mampu untuk menjadi baik, dan tidak bisa diselamatkan oleh usaha-usaha mereka sendiri melainkan hanya melalui keagungan Tuhan mereka terselamatkan. Buddhisme, dengan perbedaan yang mencolok, melihat watak dasar manusia sebagai baik dan dalam syarat-syarat yang mendukung, lebih mungkin lagi untuk berbuat kebaikan daripada kejahatan. (Baca Milindapanha 84).
Di dalam agama Kristen, manusia bertanggungjawab atas kesalahan yang mereka perbuat semasa hidup mereka tetapi juga manusia bertanggungjawab atas dosa yang diperbuat oleh Adam dan Hawa. (Catatan dari penterjemah: Ayat yang mendukung pernyataan di atas dapat dibaca di Alkitab kitab Kejadian 3:15-19)
Di dalam Buddhisme, manusia bertanggungjawab atas perbuatan yang dia lakukan sendiri saja, dan berhubung watak dasar manusia adalah baik, ini berarti usaha, pengerahan tenaga dan ketekunan sangatlah penting. Sang Buddha berkata:
“Abaikan yang salah. Pengabaian itu bisa dilakukan. Kalau pengabaian ini mustahil, Saya tidak akan mendukung kamu untuk melakukannya. Tetapi berhubung hal ini bisa dilaksanakan, Saya katakan kepadamu: “Abaikan yang salah”. Kalau mengabaikan yang salah membawa kerugian dan kesedihan, Saya tidak akan mendukung kamu untuk melakukannya. Tetapi berhubung hal ini menghasilkan manfaat dan kebahagiaan, Saya dukung kamu: “Abaikan yang salah”. Tanamkanlah kebaikan. Menanam kebaikan bisa dilakukan. Kalau hal ini tidak bisa dilakukan, Saya tidak akan mendukung kam untuk melakukannya. Tetapi berhubung hal ini bisa dilakukan, Saya katakan kepadamu:”Tanamkanlah kebaikan.” Kalau menanam kebaikan membawa kerugian dan kesedihan, Saya tidak akan mendukung kamu untuk melakukannya. Tetapi berhubung menanam kebaikan menghasilkan maanfaat dan kebahagiaan, Saya dukung kamu:”Tanamkanlah kebaikan.” “(Anguttara Nikaya, Book of Twos, Sutta No.9)
Kesadaran Benar dan Konsentrasi Benar
Dua tahap terakhir dari Delapan Jalan Kebenaran ini secara bersama-sama menjelaskan tentang meditasi, latihan yang penuh kesadaran dan lemah lembut yang pertama-tama adalah mengenal pikiran itu sendiri. Kemudian mengatur pikiran itu, dan terakhir mengubah pikiran itu.
Meskipun kata meditasi muncul sekitar dua puluh kali di dalam Alkitab, tampaknya kata meditasi itu hanya ditujukan kepada latihan sederhana dengan merenungkan ayat-ayat dari tulisan Kitab Suci. (Misalnya Yosua 1:8). Alkitab tampaknya sama sekali meniadakan tehnik-tehnik meditasi yang luas yang ditemukan di tulisan-tulisan Buddhis. Hasilnya adalah, ketika orang-orang Kristen fundamentalis tergoda oleh nafsu-nafsu jahat atau terganggu oleh pikiran-pikiran negatif, satu-satunya yang bisa mereka perbuat adalah berdoa lebih keras. Ketidakhadiran meditasi adalah juga sebab mengapa orang-orang Kristen sering tampak gelisah dan sangat minim akan keagungan.
Keagungan yang tenang dan ketidakgelisahan adalah ciri khas dari umat Buddha. (Catatan dari penterjemah: Memang diakui bahwa terdapat banyak umat Buddha yang gelisah, dan berbuat jahat. Akan tetapi ciri khas keagungan dan ketenangan itulah yang juga menjadi sebab umat Buddhis tidak keluar mencari-cari umat baru. Bukan karena sombong atau angkuh, tetapi karena umat Buddhis pada umumnya mengerti bahwa pemaksaan kehendak tidaklah diperlukan jika kita ingin berbuat kebaikan, dan umat Buddha sadar bahwa Dhamma tetap berlaku kepada semua orang, bukan hanya untuk Buddhis saja.)
“Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah!” (Mazmur 46:11) tetapi orang-orang Kristen tidak bisa duduk dengan diam, apalagi berdiam di dalam pikiran walaupun untuk sejenak. Tuhan juga berkata “berkata-katalah dalam hatimu di tempat tidurmu, tetapi tetaplah diam.” (Mazmur 4:5) yang persis dilakukan oleh umat-umat Buddhis ketika mereka sedang bermeditasi.
Tetapi pelayanan-pelayanan dan doa-doa Kristen karismatik dan penyebar Injil yang fanatik seringkali terlihat seperti perpaduan antara konser musik rock dan kekacauan, dengan pendeta yang berteriak, menggerak-gerakkan tangannya sambil berbicara ketika para jemaat bergoyang kesana-kemari, “mengeluarkan suara tanpa arti”, menangis dan bertepuk tangan.
(Catatan dari penterjemah: Perlu para pembaca ketahui, Kristen maupun Buddhis, bahwa inilah kenyataan apa adanya yang telah disampaikan secara jujur, bukan hinaan yang penuh kebohongan. Apa yang dilakukan di dalam Gereja, tampaknya mengandung hal-hal yang tidak sesuai dengan isi Alkitab. Tak jarang pula, sering terdengar bahasa-bahasa yang tidak bisa dimengerti yang diteriakkan di dalam tempat kebaktian, yang sampai hari ini tak seorangpun tau apa arti kata-kata yang diteriakkan itu.)
Kelebihan besar yang dimiliki oleh agama Buddha adalah, bukan hanya kita dinasihati untuk menjadi tenang, damai, bebas dari nafsu-nafsu kotor, dan mempunyai kesadaran diri, tetapi juga menunjukkan kepada kita bagaimana untuk menimbulkan keadaan tenang, damai, bebas dari nafsu dan kesadaran diri itu. Ada meditasi-meditasi yang menghasilkan ketentraman, untuk merubah kekotoran mental, mendukung keadaan mental yang positif, dan juga untuk merubah sikap-sikap yang tidak baik.
Dan tentunya, ketika pikiran yang tenang dan bebas dari praduga, ide-ide yang sudah tertanam, dan nafsu-nafsu yang mengganggu, akan lebih bisa melihat segala hal apa adanya. Tidaklah mengherankan bahwa banyak meditasi yang diajarkan oleh Sang Buddha sekarang digunakan oleh para psikologis, ahli jiwa, dan para penasehat.
Ajaran Sang Buddha – Alternatif Yang Masuk Akal
“Kalau kamu tidak mempunyai guru yang bisa menjelaskan ajarannya dengan memuaskan, maka ambillah Dhamma yang pasti ini dan amalkanlah. Dengan kepastian Dhamma, dan dengan pengamalan yang benar, adalah untuk kesejahteraan dan kebahagiaanmu untuk waktu yang lama”. Sang Buddha
Agama Kristiani didasarkan kepada beberapa kejadian sejarah yang dianggap terjadi (perawan yang melahirkan anak, kebangkitan dari mati, dan lain-lain), satu-satunya catatan terhadapnya adalah Alkitab yang dianggap benar pula. Jika kejadian-kejadian tersebut bisa dibuktikan tidak pernah terjadi, dan jika dokumen-dokumen yang merekam kejadian tersebut bisa terbukti untuk tidak bisa dipercaya, maka Agama Kristiani akan jatuh. Di dalam buku ini, telah kita lihat bahwa klaim-klaim yang dibuat, dalam segi terbaiknya sangatlah meragukan, dan dalam segi terburuknya adalah telah terbukti salah.
Ketika kita mengamati ajaran-ajaran Sang Buddha, kita menemukan suatu keadaan yang berbeda secara keseluruhan. Bahkan kalaupun kita bisa membuktikan bahwa Buddha itu tidak pernah ada ataupun adanya kesalahan-kesalahan dalam tulisan-tulisan Buddhis, kesalahan tersebut tidaklah meruntuhkan ajaran Sang Buddha. Mengapa?
Karena ajaran Sang Buddha tidaklah sekedar sejarah Sang Buddha ataupun kejadian-kejadian yang terjadi di masa lalu; melainkan Buddhisme itu adalah mengenai penderitaan manusia, penyebab-penyebab penderitaan, dan bagaimana penderitaan itu dapat di atasi sehingga manusia bisa menjadi terbebas, bahagia dan memancarkan kebebasan dan kebahagiaan itu. Kalau kita ingin tahu atau membuktikan kebenaran atau mengerti ajaran Buddhisme, kita tidak mengutip ataupun mencarinya di dalam tulisan-tulisan kuno dan saling bertengkar tentang arti dari kata-kata atau potongan kalimat; melainkan kita menghubungkan ajaran tersebut dengan pengalaman kita sendiri. Marilah kita teliti keempat prinsip yang menjadi pokok ajaran Sang Buddha.
( I ) Setelah Kita Mati Kita Dilahirkan Kembali
Orang-orang Kristen percaya bahwa ketika orang meninggal mereka hanya mempunyai salah satu dari dua takdir terakhir – surga atau neraka. Mereka percaya bahwa kedua takdir tersebut sifatnya abadi dan orang pergi ke salah satu takdir itu menurut pengadilan Allah Bapa.
Buddhisme mengajarkan bahwa ketika orang meninggal, mereka bisa mempunyai berbagai macam tujuan (surga, neraka, sebagai manusia kembali, sebagai binatang, dan sebagainya). Buddhisme mengajarkan bahwa tidak satupun dari tujuan itu bersifat abadi. Dengan selesainya kehidupan di salah satu alam, berlanjutlah kehidupan itu ke alam yang lain (atau alam yang sama). Buddhisme juga mengajarkan bahwa tujuan dari seseorang itu disyaratkan oleh karma dari orang itu (persisnya: jumlah dari semua kebaikan dan kesalahan yang orang tersebut lakukan semasa hidupnya).
Ini berarti bahwa semua orang baik, tanpa peduli apapun agamanya, akan mendapatkan nasib yang baik. Ini juga berarti bahwa meskipun ada yang melakukan kesalahan ataupun kejahatan akan mempunyai kesempatan untuk menjadi baik lagi di kehidupan selanjutnya.
Orang-orang Kristen mentertawakan pendapat tentang kelahiran kembali dan mengatakan tidak ada bukti yang kuat terhadap kelahiran kembali. Tetapi pendapat tentang kelahiran kembali ini tidaklah begitu berbeda dengan pendapat orang Kristen tentang kehidupan sesudah kematian – kalau setelah orang meninggal bisa menjadi malaikat di surga, mengapa mereka tidak bisa menjadi manusia di bumi?
Dan dalam hal pembuktian, secara jelas tidak ada bukti tentang teori kehidupan sesudah kematian yang dianut oleh orang Kristen. Sedangkan ada beberapa pembuktian bahwa orang bisa dilahirkan kembali (bacalah Twenty Cases Suggestive of Reincarnation, University Press of Virginia, Charlotteville USA, 1975). (Catatan dari penterjemah: Saya secara kebetulan juga mengetahui dan telah membaca sebuah buku tentang reinkarnasi (kelahiran kembali) yang berjudul “Reincarnation: The Boy Lama”.
Saya juga pernah mendengar bahwa buku tersebut pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia di akhir 1980 atau di awal 1990 yang judulnya lebih kurang sama dengan judul aslinya dalam bahasa Inggris. Sebagai petunjuk, bocah yang menjadi lama di Tibet ini bernama Osel yang dilahirkan dari keluarga Mexico atau keturunan Spanyol.)
( II ) Hidup Adalah Penderitaan
Prinsip berikutnya yang menjadi dasar Buddhisme adalah pendapat bahwa hidup ini adalah penderitaan. Meskipun orang-orang Kristen menuduh orang-orang Buddhis sebagai orang yang pesimis setelah mengucapkan pendapat tersebut, ketidakpuasan yang diwarisi oleh hidup ini sebenarnya dibenarkan oleh Alkitab: “Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.” (Yohanes 16:33) (Ayub 5:7; Pengkhotbah 1:8; Yesaya 24:4).
Tetapi sementara kedua agama setuju dengan ide penderitaan ini, kedua agama tidak setuju terhadap mengapa penderitaan itu ada.
(Catatan dari penterjemah: Orang-orang Kristen yang mempunyai pemikiran yang kritis akan menanyakan, “Mengapa kalian menyalahkan isi Alkitab, lalu setelah menyalahkan malah sekarang memakai isi Alkitab untuk melindungi diri kalian sendiri?” Pemakaian ayat-ayat Alkitab di atas bukanlah berarti setelah kita menyalahkan Alkitab, lalu memakainya kembali untuk melindungi diri kita sendiri. Perlu diketahui bahwa pemakaian isi Alkitab di dalam buku ini adalah untuk menunjukkan adanya kesalahan dan ketidaksempurnaan Alkitab, menyangkal Alkitab itu firman dari Allah, bukan wahyu Allah ataupun ilham ataupun kesaksian yang bisa dipercaya. Tidak pernah sekalipun di dalam buku ini sang pengarang dan kita mengatakan bahwa isi Alkitab salah semua. Secara terbuka sang pengarang memuji beberapa ajaran Kristen yang mulia (yang banyak dari ajaran itu tercantum di Alkitab), yang telah membuat beliau menjadi umat Buddha yang lebih taat.)
Orang-orang Kristen bergantung kepada mitos yang menjelaskan asal mula kejahatan dan penderitaan sebagai akibat dari Adam dan Hawa yang telah memakan apel (Catatan dari penterjemah: buah terlarang, buah pengetahuan).
Buddhisme melihat penderitaan itu sebagai kejadian psikologi yang mempunyai sebab psikologis – kemauan, ketergantungan, dan nafsu. Dan pengalaman kita sendiri menjelaskan bahwa memang benar begitu. Ketika kita menginginkan sesuatu dan tidak bisa mendapatkannya, kita akan merasa kecewa, dan semakin kuat keinginan itu, semakin kuat juga kekecewaan itu.
Bahkan kalaupun kita bisa mendapatkan apa yang kita inginkan, kita akan menjadi bosan dan mulai untuk menginginkan hal yang lain. Bahkan penderitaan badan disebabkan oleh ketergantungan, karena ketergantungan yang kuat untuk hidup membuat kita dilahirkan kembali dan ketika kita dilahirkan kembali kita bisa menderita sakit, kecelakaan, menjadi tua, terpisah dari orang-orang yang kita kasihi, dan lain-lain.
Buddhisme mengajarkan bahkan kebahagiaan di surga tidaklah abadi dan tidaklah sempurna, kenyataan yang disetujui oleh Alkitab.
Alkitab memberitahu kita bahwa Setan dulunya adalah salah satu malaikat di surga, tetapi dia memberontak melawan Tuhan (yang berarti: Setan tidak puas) dan dibuang dari surga (yang berarti: keberadaan di surga tidaklah abadi). Kalau pernah berada di surga sekali dan bisa terjatuh dari kehidupan di surga, ini membuktikan bahwa surga tidaklah sempurna dan tidaklah abadi, yang mana orang Kristen mengklaim sebaliknya. (Bacalah: Yesaya 14:12-15, 2 Petrus 2:4, Yudea 6, Wahyu 12:9)
( III ) Penderitaan Bisa Diatasi
Prinsip ketiga yang menjadi dasar Buddhisme adalah pendapat bahwa adalah mungkin untuk terbebas dari penderitaan. Ketika ketergantungan dan keinginan berhenti, kehidupan seseorang menjadi lebih sederhana dan bahagia, dan setelah meninggal, ia tidak akan terlahir kembali. Keadaan yang terbebas sepenuhnya dari penderitaan di sebut Nibbana dan digambarkan oleh Sang Buddha sebagai “Kebahagiaan Tertinggi” (Dhammapada 203).
“Rasa lapar adalah penyakit yang paling berat, Lima Kandha (yang terdiri dari jasmani, perasaan, pencerapan, bentuk-bentuk mental, dan kesadaran manusia sesungguhnya hanyalah komposisi dari lima kelompok kehidupan ini) adalah keburukan yang paling parah; (dengan) menyadari kenyataan ini, orang bijaksana mencapai Nibbana, Kebahagiaan Tertinggi.” – Dhammapada 203.
(Catatan dari penterjemah: Pengertiannya adalah manusia adalah terdiri dari lima kelompok kehidupan yang disebut di atas – Lima Kandha. Unsur-unsur itulah yang harus kita hilangkan supaya terlepas dari roda kehidupan (penderitaan). Itulah sebabnya dikatakan Lima Kandha adalah keburukan yang paling parah karena bisa lapar (memunculkan keinginan, ketergantungan, dan nafsu – penderitaan). Dengan hilangnya Lima Kandha, kita bisa terbebas dari keburukan yang paling parah penyebab kehidupan kembali (penderitaan), dan mencapai Nibbana.)
Orang Kristen sering salah mengartikan, bahwa Nibanna adalah kehampaan yang kosong dan menuduh ajaran Buddha itu penuh dengan kehampaan. Kesalahpahaman ini muncul karena ketidakmampuan mereka untuk memahami kehidupan sesudah kematian yang lebih halus daripada surga yang mereka percaya yang “ada di atas sana” (Psalms 14:2, 53:2) dengan pintu-pintu dan jendela-jendela (Kejadian 28:17, Wahyu 4:1, 2 Raja-Raja 7:2, Malaekhi 3:10), tempat Allah Bapa duduk di singgasana (Wahyu 4:2) dikelilingi oleh orang-orang Kristen berbusana indah dengan mahkota tiara (bercabang tiga) bermain trompet (Wahu 4:4).
Sang Buddha secara pasti mengatakan bahwa Nibbana itu tidaklah hampa.
Ketika seseorang telah membebaskan pikiran, para dewa tidak bisa melacaknya, meskipun mereka berpikir: “Ini adalah kesadaran yang melekat kepada Sang Kesunyataan (Buddha).” Dan mengapa? Karena Sang Kesunyataan tidaklah dapat dilacak. Meskipun saya mengatakan hal ini, ada beberapa pertapa dan guru-guru agama yang telah menyajikan (ajaran) Saya dengan salah, yang secara tidak sesuai kenyataan, berkata: “Sang Bhikkhu Gautama (Buddha) adalah seorang yang penuh kehampaan karena Dia mengajarkan pembuangan, penghancuran, dan kehilangan dari sebuah kesatuan yang ada.” Tetapi ini tentulah tidak Saya ucapkan. Baik sekarang dan di masa lalu, Saya hanya mengajarkan penderitaan dan cara-cara mengatasi penderitaan. (Majjhima Nikaya, Sutta No.22)
Tetapi Beliau juga mengatakan bahwa Nibbana bukanlah “kehidupan abadi” yang mentah dan sederhana. Nibbana tidaklah seperti yang dilukiskan oleh Kristiani. Nibbana adalah suatu keadaan yang sama sekali murni dan bahagia yang tidak ada satupun bahasa umum yang bisa jelaskan secara tepat.
Orang-orang Kristen kadang mengatakan bahwa Buddhisme bertentangan dengan dirinya sendiri karena dalam keinginan untuk mencapai*) Nibbana, seseorang telah memperkuat keinginan (Catatan dari penterjemah: salah satu dari hasil Lima Kandha – yang lainnya adalah ketergantungan, dan nafsu) yang dapat mencegah orang itu untuk mencapainya. Pendapat ini dibawakan pada saat Buddha masih hidup, dan dijawab oleh salah seorang murid utama Beliau, Ananda. (Catatan dari penterjemah: *) – kata “mencapai” tidaklah mengartikan bahwa Nibbana adalah suatu tempat. Kata-kata seperti “jalan menuju Nibbana” sering dipakai untuk menggambarkan ajaran Sang Buddha yang telah ditemukan oleh Sang Buddha, dan diajarkan kepada – juga bisa dicapai oleh, para murid-murid Dhamma.
Catatan ini ada untuk menghindari adanya kesalahpahaman bahwa ajaran Sang Buddha berisi banyak pertentangan. Perlu kiranya ditekankan sekali lagi bahwa Nibbana tidak dapat dijelaskan melalui kata-kata umum. Penggunaan kata “mencapai” “tujuan” “jalan menuju” “kebahagiaan tertinggi” hanyalah untuk penjelasan yang seiring dengan konsep Nibbana yang disampaikan oleh Sang Buddha.)
Seorang imam menanyakan Yang Mulia Ananda: “Apa tujuan dari kehidupan suci di bawah bhikkhu Gautama?” – “Tujuannya adalah untuk melepaskan nafsu.” –
“Adakah caranya, latihan yang mana bisa melepaskan nafsu?” – “Ada caranya, yaitu dengan usaha kekuatan batin dari keinginan, energi, pikiran dan perenungan yang bersama-sama dengan konsentrasi (pemusatan pikiran) dan usaha.” – “Kalau begitu adanya, Yang Mulia Annanda, lalu ini sama saja dengan usaha yang tiada akhirnya. Karena untuk melepaskan satu nafsu untuk dengan menggunakan nafsu yang lain adalah tidak mungkin.” – “Lalu saya akan bertanya kepadamu sebuah pertanyaan; jawablah sesukamu.
Sebelumnya, apakah kamu mempunyai nafsu (keinginan), energi, pikiran dan perenungan untuk datang ke taman ini?
Dan setelah tiba, hilangkah keinginan, energi, pikiran dan renungan yang kau bawa itu?” – “Ya, semuanya itu hilang.” – “Kalau begitu, seseorang yang telah menghancurkan kekotoran batin, setelah dia mencapai penerangan sempurna, keinginan itu, energi itu, pikiran itu, renungan yang dia miliki untuk mencapai penerangan sempurna sekarang telah sirna.” (Samyutta Nikaya, Book Seven, Sutta No.15)
(IV) Ada Cara Untuk Mengatasi Penderitaan
Prinsip terakhir yang menjadi dasar ajaran agama Buddha mengajarkan kita bagaimana caranya untuk menghilangkan ketergantungan, yang kemudian terbebas dari penderitaan di dalam hidup ini dan di masa yang akan datang. Ketiga prinsip pertama adalah bagaimana cara pandang orang Buddhis terhadap dunia dan kesulitan manusia, sedangkan prinsip terakhir ini adalah tentang apa yang umat Buddhis putuskan untuk mengatasi kesulitan tersebut. Dan jawaban Buddhis terhadap penderitaan adalah untuk menjalankan Delapan Jalan Mulia (Kebenaran).
Sistem yang sangat bisa diterapkan dan berlaku secara universal ini terdiri dari pengembangan Pengertian Benar, Pikiran Benar, Perkataan Benar, Perbuatan Benar, Penghidupan Benar, Usaha Benar, Kesadaran Benar, Konsentrasi Benar. Kita akan melihat secara singkat masing-masing dari jalan tersebut.
Pengertian (Pandangan) Benar
Kalau kita bertahan untuk percaya bahwa kejahatan (dosa) dan penderitaan adalah disebabkan oleh sesuatu yang Adam dan Hawa lakukan, atau bahwa kejahatan (dosa) dan penderitaan disebabkan oleh iblis, kita tidak akan pernah bisa mengatasinya.
Ketika kita mengerti bahwa kitalah yang menyebabkan penderitaan kita sendiri melalui kebodohan dan ketergantungan (kemelekatan), kita telah mengambil langkah pertama untuk mengatasi penderitaan itu. Mengetahui penyebab utama dari sebuah masalah adalah awal dari usaha mengatasi masalah itu.
Dan adalah tidak cukup untuk hanya percaya – kita harus berusaha untuk mengerti. Pengertian benar memerlukan penggunaan otak, penelitian yang hati-hati, pembuktian dari kenyataan-kenyataan yang ada, keterbukaan. Dalam usaha untuk mendapatkan wawasan dan pengetahuan, kualitas-kualitas tadi akan terasah dan diperkuat.
Pikiran, Ucapan dan Perbuatan Benar
Ketiga tahap dari Delapan Jalan Kebenaran menjadi batang tubuh dari ajaran etika (moral) Buddhis. Orang-orang Kristen sering mencoba untuk memberikan kesan bahwa hanya moral merekalah yang berputar disekitar kelembutan, cinta kasih dan pengampunan.
Tetapi, kenyataannya 500 tahun sebelum Yesus, Buddha mengajarkan etika yang berpusatkan cinta kasih dengan lebih baik dan lebih lengkap daripada ajaran Kristiani. Untuk melatih Pikiran Benar, kita hendaknya mengisi pikiran-pikiran kita dengan pikiran-pikiran cinta kasih dan belas kasihan.
Kembangkan pikiran yang penuh cinta kasih, belas kasihan, dikendalikan oleh kebajikan, timbulkan energimu, jadilah orang yang tegas dan selalu teguh di dalam membuat kemajuan. (Theragata 979)
“Ketika dengan satu pikiran yang penuh dengan kasih sayang, seseorang akan merasakan belas kasihan kepada seluruh dunia – yang di atas, dibawah dan disekeliling, tak terbatas ke seluruh penjuru, dipenuhi dengan kebaikan hati yang tak terbatas, lengkap dan terlatih dengan benar; dan semua perbuatan-perbuatan terbatas yang seorang telah lakukan tidak akan tetap hidup di dalam pikiran itu.” (Jataka 37,38)
Sama halnya dengan air yang menyejukkan kebaikan dan keburukan dan membersihkan semua kotoran dan debu, dengan cara yang sama kamu hendaknya mengembangkan pikiran-pikiran cinta kasih kepada teman dan lawan, dan dengan mencapai kesempurnaan dalam cinta kasih, kamu akan mencapai Penerangan Sempurna (Jataka Nidanakatha 168-169)
Dalam melatih Ucapan Benar, kita hendaknya menggunakan kata-kata yang kita gunakan untuk mendukung kejujuran, kelembutan hati dan kedamaian. Sang Buddha menggambarkan Ucapan Benar seperti berikut ini.
“Kalau kata-kata mempunyai lima ciri khas, ciri khas tersebut adalah: pengucapan yang benar, bukan pengucapan yang sembarangan, tidak disalahkan maupun dikutuk oleh orang-orang bijaksana, kata-kata itu diucapkan pada saat yang tepat, penuh kebenaran, lembut, langsung (tepat pada sasaran), dan digerakkan oleh cinta kasih”. (Anguttara Nikaya, Books of Fives, Sutta 198)
Dengan keindahan dan kejelasan yang merupakan ciri khas dari Sang Buddha, Beliau menjelaskan seorang yang berusaha mengembangkan Ucapan Benar sebagai berikut.
“Tidak berbohong, seorang menjadi pembicara tentang kebenaran, bisa diandalkan, patut dipercaya, bukanlah penipu dunia ini. Tidak memfitnah, seorang tidak mengulang di tempat lain terhadap apa yang didengar di tempat ini, atau mengulang di tempat ini terhadap apa yang didengar di tempat lain, yang tujuannya untuk memecah-belah orang.
Sehingga, orang itu menjadi pemersatu dari yang terpecahkan, penggabung dari apa yang sudah bersatu, memberi kebahagiaan di dalam kedamaian, memberikan kesenangan di dalam kedamaian, mendukung perdamaian; perdamaian adalah penggerak ucapan-ucapannya.
Berhenti berkata kasar, seorang mengatakan apa yang tidak disalahkan, enak di dengar telinga, bisa disetujui, menyentuh hati, berbudi bahasa santun, menyenangkan dan disukai oleh semua khayalak.
Berhenti mengucapkan hal-hal yang tidak berguna, seorang berbicara pada saat yang benar, mengenai kenyataan, tepat pada sasaran, tentang Dhamma dan ketekunan, kata-kata yang pantas untuk dihargai, sesuai dengan musimnya, penuh pertimbangan, diterangkan dengan jelas, dan berhubungan dengan tujuan.” (Digha Nikaya, Sutta No.1)
Perbuatan benar memerlukan kita untuk menghindari pembunuhan, pencurian dan perbuatan seksual yang senonoh, dan memerlukan kita untuk melatih kelembutan, kemurahan hati, kendali diri, dan memberikan pertolongan kepada yang lain.
Penghidupan Benar
“Untuk melatih Penghidupan Benar, seorang akan bekerja di pekerjaan yang penuh moral, dan yang menghasilkan sesuatu yang tidak merugikan masyarakat ataupun lingkungan. Seorang tuan akan membayar pekerja-pekerjanya dengan adil, memperlakukan mereka dengan penuh hormat, dan memastikan keadaan kerja yang aman. Seorang pekerja di sisi yang lain akan bekerja secara jujur dan rajin.” (Digha Nikaya, Sutta No.31). Seorang juga hendaknya menggunakan penghasilannya dengan bertanggungjawab – memenuhi kebutuhannya, menghematkannya, dan membagikan sebagian untuk amal.
Usaha Benar
Kepercayaan Kristen tentang Tuhan dan manusia membuat usaha manusia tidak bertalian/berhubungan. Manusia pada dasarnya adalah berakhlak buruk dan orang berdosa yang jahat. “orang miskin didorongnya dari jalan, orang sengsara di dalam negeri terpaksa bersembunyi semuanya.” (Ayub 24:4)
“Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya?” (Yeremia 17:9)
Tak lebih dari sekedar ulat (Ayub 25:6) manusia tidaklah mampu untuk menjadi baik, dan tidak bisa diselamatkan oleh usaha-usaha mereka sendiri melainkan hanya melalui keagungan Tuhan mereka terselamatkan. Buddhisme, dengan perbedaan yang mencolok, melihat watak dasar manusia sebagai baik dan dalam syarat-syarat yang mendukung, lebih mungkin lagi untuk berbuat kebaikan daripada kejahatan. (Baca Milindapanha 84).
Di dalam agama Kristen, manusia bertanggungjawab atas kesalahan yang mereka perbuat semasa hidup mereka tetapi juga manusia bertanggungjawab atas dosa yang diperbuat oleh Adam dan Hawa. (Catatan dari penterjemah: Ayat yang mendukung pernyataan di atas dapat dibaca di Alkitab kitab Kejadian 3:15-19)
Di dalam Buddhisme, manusia bertanggungjawab atas perbuatan yang dia lakukan sendiri saja, dan berhubung watak dasar manusia adalah baik, ini berarti usaha, pengerahan tenaga dan ketekunan sangatlah penting. Sang Buddha berkata:
“Abaikan yang salah. Pengabaian itu bisa dilakukan. Kalau pengabaian ini mustahil, Saya tidak akan mendukung kamu untuk melakukannya. Tetapi berhubung hal ini bisa dilaksanakan, Saya katakan kepadamu: “Abaikan yang salah”. Kalau mengabaikan yang salah membawa kerugian dan kesedihan, Saya tidak akan mendukung kamu untuk melakukannya. Tetapi berhubung hal ini menghasilkan manfaat dan kebahagiaan, Saya dukung kamu: “Abaikan yang salah”. Tanamkanlah kebaikan. Menanam kebaikan bisa dilakukan. Kalau hal ini tidak bisa dilakukan, Saya tidak akan mendukung kam untuk melakukannya. Tetapi berhubung hal ini bisa dilakukan, Saya katakan kepadamu:”Tanamkanlah kebaikan.” Kalau menanam kebaikan membawa kerugian dan kesedihan, Saya tidak akan mendukung kamu untuk melakukannya. Tetapi berhubung menanam kebaikan menghasilkan maanfaat dan kebahagiaan, Saya dukung kamu:”Tanamkanlah kebaikan.” “(Anguttara Nikaya, Book of Twos, Sutta No.9)
Kesadaran Benar dan Konsentrasi Benar
Dua tahap terakhir dari Delapan Jalan Kebenaran ini secara bersama-sama menjelaskan tentang meditasi, latihan yang penuh kesadaran dan lemah lembut yang pertama-tama adalah mengenal pikiran itu sendiri. Kemudian mengatur pikiran itu, dan terakhir mengubah pikiran itu.
Meskipun kata meditasi muncul sekitar dua puluh kali di dalam Alkitab, tampaknya kata meditasi itu hanya ditujukan kepada latihan sederhana dengan merenungkan ayat-ayat dari tulisan Kitab Suci. (Misalnya Yosua 1:8). Alkitab tampaknya sama sekali meniadakan tehnik-tehnik meditasi yang luas yang ditemukan di tulisan-tulisan Buddhis. Hasilnya adalah, ketika orang-orang Kristen fundamentalis tergoda oleh nafsu-nafsu jahat atau terganggu oleh pikiran-pikiran negatif, satu-satunya yang bisa mereka perbuat adalah berdoa lebih keras. Ketidakhadiran meditasi adalah juga sebab mengapa orang-orang Kristen sering tampak gelisah dan sangat minim akan keagungan.
Keagungan yang tenang dan ketidakgelisahan adalah ciri khas dari umat Buddha. (Catatan dari penterjemah: Memang diakui bahwa terdapat banyak umat Buddha yang gelisah, dan berbuat jahat. Akan tetapi ciri khas keagungan dan ketenangan itulah yang juga menjadi sebab umat Buddhis tidak keluar mencari-cari umat baru. Bukan karena sombong atau angkuh, tetapi karena umat Buddhis pada umumnya mengerti bahwa pemaksaan kehendak tidaklah diperlukan jika kita ingin berbuat kebaikan, dan umat Buddha sadar bahwa Dhamma tetap berlaku kepada semua orang, bukan hanya untuk Buddhis saja.)
“Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah!” (Mazmur 46:11) tetapi orang-orang Kristen tidak bisa duduk dengan diam, apalagi berdiam di dalam pikiran walaupun untuk sejenak. Tuhan juga berkata “berkata-katalah dalam hatimu di tempat tidurmu, tetapi tetaplah diam.” (Mazmur 4:5) yang persis dilakukan oleh umat-umat Buddhis ketika mereka sedang bermeditasi.
Tetapi pelayanan-pelayanan dan doa-doa Kristen karismatik dan penyebar Injil yang fanatik seringkali terlihat seperti perpaduan antara konser musik rock dan kekacauan, dengan pendeta yang berteriak, menggerak-gerakkan tangannya sambil berbicara ketika para jemaat bergoyang kesana-kemari, “mengeluarkan suara tanpa arti”, menangis dan bertepuk tangan.
(Catatan dari penterjemah: Perlu para pembaca ketahui, Kristen maupun Buddhis, bahwa inilah kenyataan apa adanya yang telah disampaikan secara jujur, bukan hinaan yang penuh kebohongan. Apa yang dilakukan di dalam Gereja, tampaknya mengandung hal-hal yang tidak sesuai dengan isi Alkitab. Tak jarang pula, sering terdengar bahasa-bahasa yang tidak bisa dimengerti yang diteriakkan di dalam tempat kebaktian, yang sampai hari ini tak seorangpun tau apa arti kata-kata yang diteriakkan itu.)
Kelebihan besar yang dimiliki oleh agama Buddha adalah, bukan hanya kita dinasihati untuk menjadi tenang, damai, bebas dari nafsu-nafsu kotor, dan mempunyai kesadaran diri, tetapi juga menunjukkan kepada kita bagaimana untuk menimbulkan keadaan tenang, damai, bebas dari nafsu dan kesadaran diri itu. Ada meditasi-meditasi yang menghasilkan ketentraman, untuk merubah kekotoran mental, mendukung keadaan mental yang positif, dan juga untuk merubah sikap-sikap yang tidak baik.
Dan tentunya, ketika pikiran yang tenang dan bebas dari praduga, ide-ide yang sudah tertanam, dan nafsu-nafsu yang mengganggu, akan lebih bisa melihat segala hal apa adanya. Tidaklah mengherankan bahwa banyak meditasi yang diajarkan oleh Sang Buddha sekarang digunakan oleh para psikologis, ahli jiwa, dan para penasehat.
Langganan:
Postingan (Atom)